Tentang Beda

Setelah resmi memutuskan untuk menjauh dari eri, ada yang beda yang gue rasakan.

1. Gue menghindar dari lagu-lagu yang dinyanyikan grup band, terutama yang gitarnya dominan.  Hal itu mengingatkan pada eri.

2. Gue selalu buang muka (memandang ke arah lain) kalau pas dijalan melihat mobil a#ansa hitam kinclong. Soalnya itu mobil eri. Kayaknya ini penyakit deh. Dulu mantan nyetir Y#ris, pas pisahan juga rada alergi lihat y#ris di jalan, apalagi yang warna abu-abu. Sekarang Y#arisnya netral, giliran a#ansa bikin miris  hahahaha

3. Galau dengan bank bumn sejuta umat warna biru hahaha. Tempat beliaunya gawe. Bikin galau karena yang ini belum bisa gue hindari untuk tidak berurusan dengannya. Lagian childish amat kesannya. ( kayak yang no 2 ga childish yak😀 )

4. Gue ngindarin tempat-tempat romantis, pokoknya yang dipake orang buat dua-duaan (yang ini sih karena sirik aja hahahaha)

5. Gue nyari bacaan yang lucu-lucu, penuh misteri dan menegangkan, atau tentang petualangan, ketimbang bacaan romantis yang membangun jiwa halah (kalau ini dari dulu deh kayaknya hehehe). List di gue sekarang: novel jaman gue kecil punya trio detektif, novel lucu punya jonas johannson, bukunya agustinus wibowo, atau kumpulan puisinya goethe. Entahlah nanti lihat aja mau baca yang mana.

6. Musik pilihan gue sekarang rada-rada ke yang ngebeat gitu, yang ngedance menghentak (die young-kesha), atau kalau mau yang slow ya yang isinya bukan cinta atau sekalian yang gue ga tahu isinya (playlist sekarang kalau pas naik motor adalah lagu-lagu korea yang gue blas ga dong artinya tapi musiknya enak😀 , atau lagunya Letto, karena jelas meski penuh cinta, itu maknanya mendalam dan sangat luas. Truth cries and lies? Yes :))

7. Dilema perawatan. Sejak dulu gue suka nyalon dan teman-temannya. Makin menjadi setelah kenal eri karena tu orang perhatian banget sama penampilan dan aktualisasi diri (milih tempat bergaul dan bagaimana orang bergaul. Dari atas sampai bawah diperhatikan oleh dia). Hierarki kebutuhan Maslow jadi dasar teori. Gue sendiri agak ga terlalu peduli kalau untuk hal-hal yang seperti itu. Gue merhatiin diri gue dan penampilan gue demi kepuasan diri sendiri bukan orang lain, bukan demi aktualisasi diri or else. Kembali soal dilema tadi, sekarang kalau lagi di salon malah inget eri, jalan ke toko baju atau sepatu malah inget kata-kata dia. Dooh males banget gue jadinya. Suka KSBB-Kelingan Sik Biyen Biyen :)) . Sekarang gue jadi luluran sendiri. Kalau perawatan rambut juga milih di salon rumahan dekat-dekat rumah, enggak yang di mall atau salon-salon khusus perempuan yang gede-gede balihonya itu.

Oh well, jalani saja lah. Semuanya itu simbolnya eri dan gue lagi meminimalisir pengaruh dia di hidup gue. Kakak laki-laki gue bilang pelan-pelan, takes time. Kakak perempuan gue? Hohoho mereka belum tahu😀 . Ntar aja tahunya kalau gue udah netral. Takut makin nyeri di hati saat mereka menari penuh syukur atas “anugerah” Ilahi😦 . Mereka kan dari awal sudah galak banget soal ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s