Mengubah “prasangka baik”

Ngobrol-ngobrol dengan teman itu asyik banget. Kita ga akan menduga hal apa aja yang muncul dalam obrolan itu. Hari ini beberapa teman gue sepakat kasih saran ke gue untuk merubah penampilan demi menjauhi prasangka baik hahahaha. Absurd bin gendeng ga sih. Prasangka baik kok dijauhi.

Mereka nyaranin supaya gue jilbabnya dipendekin, trus coba pake celana panjang atau celana jeans. Kayak yang sering mereka lihat. Pake hijab gitu. Ehm…let’s see. Iya sih trakhir gue pake clana jeans kelas 1 or 2 sma. Tapi masih pake celana panjang kain sampai kuliah semester 3/4-an.  Trus soal jilbab? Iya panjang jilbab gue ga akan pernah kurang dari siku gue. Pasti. Karena kurang dari itu sangat tidak terasa nyaman di gue. Nah gara-gara tampilan luar kayak gitu itu gue jadi kayaknya religius banget. Tampilan macam gini nih yang tadi dikatain oleh-oleh teman-teman gue kontradiktif dan menimbulkan ‘prasangka baik’. Alim, lembut, keibuan, penurut, tahu agama, dan “kayaknya” pandai ilmu berumah tangga, submissive banget deh. Padahal aslinya hahahahaha

Tapi tidak, gue tidak akan merubah penampilan yang seperti itu. Itu usaha terbaik gue untuk kenyamanan gue sendiri. Nyaman jasmani dan rohani, sesuai dengan keyakinan gue pribadi. This is my best my self.

Bagaimana dengan anggapan orang yang memiliki ekspektasi lain pada gue? SALAH SENDIRI. Sejak kapan penilaian seseorang didasarkan pada ‘penampilan’ doang. Iya, gue tahu di negara kita ini orang suka menggolongkan, mengkotak-kotakan manusia lain sesuai apa yang mereka lihat dari luarnya saja. Pake jilbab lebar dikit dianggep A atau B atau C. You name it lah. Prasangka. Bukankah kita sudah diperingatkan untuk menjauhi prasangka (buruk). Eh tapi dalam hal ini gue diprasangkain baik tuh. Diaminin ya🙂 Cuma masalahnya, casing macam gini “mengundang” pria-pria yang sikapnya seringkali bikin gue overwhelmed n suffocated dengan pandangan dan kesaklekan mereka. Let’s say, gue memiliki pandangan sendiri terkait harmonisasi di dunia ini dan satu lagi, yang pasti gue anti doktrin. Yes, ada yang bilang agama juga bentuk doktrin, tapi doktrin agama akan menimbulkan ketenangan dan menjadikan dunia indah sebenar-benar indah dalam kebersamaan. Bukan indah kalau segolongan dengan lo ya. Itu sih arogan. Jadi? Well, di sini gue seringnya merasa sedih. Halah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s