Sakitnya tu di sini #eh :))

Gue lagi ngantri mau cuci rambut di salon perempuan murah meriah khusus perempuan di daerah kotabaru saat gue nulis ini di hape. Sebelumnya telah gue ikhlasin muka gue dibejek-bejek, dipencet sana-sini sama mbak facialist (enak banget ya nyebutnya). Gue ga teriak, bukan karena gue pingsan ya, tapi karena gue menentang rasa sakit itu. Iya, karena di dalam diri ini, gue lagi merasakan kesakitan yang luar biasa, jadi gue butuh kesakitan fisik sebagai penyeimbang. Sound cruel? No worry. It’ll pay off😀 .

Dan sakit apa yang pantas kalau bukan sakitnya difacial. Ya masih ada sih katanya sakit pas melahirkan. Tapi kan itu syarat dan ketentuan berlaku ya. Jadi sekarang facial aja deh. Masih nyari yang mau menghamili.

Ga perlulah cerita gimana orang difacial itu. Semua juga tahu. Yang penting rasanya sudah terbayang kan? Rasa itu hadir pelan-pelan ketika dipencet dan dibelek (rasanya kayak dibelek pisau). Level sakitnya juga beda-beda. Dan perpindahan level itu ga pake kulonuwun. Ga harus dari sakit level 1 ke 2 berurutan, bisa saja dari level 1 langsung akselerasi ke level 6. Persis valentino rossi kalau balapan. Tahu kan gimana dy pindah gir? Yak. Persis kayak itu. Si mbak sudah wanti-wanti, nanti kalau sakit banget bilang ya mbak. Oke deh sip. Tapi karena gue sudah ada misi tadi, maka sesakit apapun gue ga bilang, ga teriak, nggak mengaduh. Gue panggil semua rasa sakit di hati gue, kebencian dan sesak di dada gue dan gue tandingkan dengan sakitnya jerawat ‘digali’ oleh mbaknya secara paksa. Sakitnya sampai bikin air mata gue mengalir membasahi kapas penutup mata yang memang gue sengaja minta untuk menutupi kedua mata gue. Tidak ada isakan, tidak ada sesenggukan. Terkadang si mbak mengusap air mata gue pake kapas. Makasih mbak.

Dua rasa sakit dari dua sumber yang berlainan itu dilepaskan secara bersamaan. Gue ga mengumpat ataupun memaki. Tiap kali kesakitan di muka gue, gue panggil namanya. Sang pemberi rasa itu. Tiap kali kesakitan gue rasa di hati gue, gue panggil nama Eri. Biar dia ikut ngerasain sakit gue. Dooh senut-senutnya kanjeng mami :((

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s