Nasehat kakak: cara memilih pasangan

Kemarin hari libur nanggung cuma sehari doang. Gue oleh mas GP, kakak gue, diajak jalan. Dia bilang suruh nemenin hunting foto. Kakak ipar lagi tugas jaga, ga bisa diganggu gugat. Sutra lah. Gue juga sudah lama ga pegang nikon dslr gue.  Tapi ternyata itu cuma alasan doang. Di lokasi hunting yang cantik itu, kami ke taman sari, gue oleh kakak ternyata di ajak ngobrol. Jeprat-jepret cuma dijadikan kamuflase supaya kelihatan sibuk serius dan ga kayak orang pacaran yang banyak kelihatan duduk senyam-senyum ga jelasnya hahahaha.
Abang gue ini serius nanyain tentang Eri. Tapi itu juga cuma basa-basi aja kayaknya. Dia ga kasih komentar apa-apa tentang cowok itu (ga kayak kakak-kakak perempuan gue yang langsung tantrum😀 ).

Inti dari obrolan kami, abang gue menjelaskan tentang image pernikahan. Idealisme. Orang pasti punya impian tentang pernikahan yang dia inginkan. Semua orang berhak berimajinasi. Dan orang memang dikarunia kemampuan untuk itu. Tapi harus hati-hati juga. Bakat berimajinasi pada beberapa orang cenderung malah digunakan secara sadar ataupun tidak sadar untuk melihat apa yang kau inginkan untuk berada di sana (dalam pernikahan/proses menuju pernikahan termasuk mencari pasangan), bukan untuk melihat hal yang sebenarnya sudah ada di sana (di dalam proses itu). Ilusi idealisme. Lantas adeknya yang rada dodol ini nanya dong. “Trus gimana supaya tidak terjebak dalam ilusi idealisme?”  Kakak gue ini bilang. Gunakan counterbalance-nya. Penyeimbang dari idealisme (ilusi) apalagi kalau bukan realitas. Misalnya: dalam mencari pasangan hidup kita sudah tahu kebutuhan kita, yaitu berbagi sampai dengan level yang paling dalam, emosional sharing.  Pada tahap ini semua orang punya potensi untuk menjadi pasangan kita. Manusia gitu loh. Potensi pasti ada semua kan. Tapi kata kakak gue, potensi itu tidak sama dengan kenyataan yang ada. Potensi akan tetap menjadi potensi sampai ia dikembangkan, sampai dia berkembang. Pada tahapan ini gue, yang sedang mencari pasangan hidup, wajib untuk menjadi pemilih. Gue kudu picky dalam melihat potensi-potensi yang ada di hadapan gue. Sudahkah potensi itu berkembang atau belum? Dan beneran gue harus memakai saringan kenyataan yang gue lihat, bukan memakai saringan yang gue pengen lihat (yang cenderung menjadi ilusi). Bingung ya. Sama gue pas itu laper juga sih.

Trus kita break sholat di masjid agung. Dan nerusin ngobrol sambil nongkrong di sana. Jadi gini, coba tanyakan:

  • Apakah orang ini mampu berdiri di atas kaki sendiri?
  • Apakah orang ini punya karakter yang kuat?
  • Bisakah kamu mempercayai orang ini?
  • Apakah orang ini tepat untukmu?
  • Apa yang kamu lihat pada diri orang ini? Dirinya yang sebenarnya atau proyeksi dari apa yang ingin kau lihat pada dirinya?
  • Adakah kekurangan/keburukan/ hal-hal negatif yang cenderung ingin kau abaikan ? (Cermati kalimat, si x memang blablabla#negatif# tapi dia baik blablabla #positif# hehehehe). Karena mengabaikan kekurangan itu tidak sama dengan menerima kekurangan. Mengabaikan—> menciptakan ilusi tidak melihat. Beda dengan menerima kekurangan. Kita melihat hal itu nyata. Tapi kita berazam we’ll working on it. Kira-kira begitu.

Kakak gue bilang, imajinasi bisa jadi menciptakan ilusi. Maka bersikap realistis itu wajib. Cek listnya dipegang teguh. Stay on the ground kata dia.

Penutup dia ada pada kisah putri dan pangeran katak. Ilusi si puteri kalau nyium si katak maka kata berubah jadi pangeran. Trus katak dinikahi deh. Karena diilusiny dia pangeran cakep berkuda putih. Nah kalau ilusinya sudah tipis trus lama-lama hilang, si katak tetap katak. Mau tetep sama katak dek? Tuh di kolam masjid ada. Hehehehe.

Makasih ya mas bro. You are the best.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s