Antara film dan kenyataan

image

Hidungnya agak terlalu mencolok tapi overall cakep. Ganteng. Itu artis film asal Jerman, Alexander Fehling. Gue ga ngefans sih sama dia. Biasa aja. Ganteng model demikian mah di jalanan Eropa sana banyak #lempar sandal😀

Lantas kenapa gue nulis tentang dia? Sepanjang tahun ini bukannya cowok yang gue tulis cuma Eri dan Eri seorang😛 . Well ini juga masih ada hubungannya dengan Eri sih hahahaha#teteeep

Jadi ceritanya gue nonton film dalam rangkaian festival Film Jerman di Jogja, di bioskop XXI Jalan Solo. Ada beberapa film yang gue taksir setelah baca sinopsisnya. Cuma gue ga dapet tiketnya untuk semua film itu. Antrianya bok, mengular melingkar-lingkar sampai parkiran luar. Pokoknya untuk film Phoenix dan der Kreuzweg itu gue ngantri ga guna. Ga dapat karcisnya. Hebat deh ini acara. Gue heran ini peminat banyak banget apa karena gratisan ato mereka emang pengen lihat alternatif film selain yang made in USA. Keine Ahnung. Kalau gue pribadi sih karena gue kangen film Jerman hehehe. Jaman dulu nonton film adalah cara paling cepat dan meringankan hidup dalam rangka melancarkan bahasa Jerman gue. Tentu saja gue nonton film asli Jerman, bukan film holiwut yang didubbing bahasa Jerman. Rugi tauk. Tiket mahal kok nonton dubbingan.

Balik lagi ke film yang gue tonton. Akhirnya gue dapat tiketnya untuk nonton film di hari terakhir. Gue sudah ikhlas dapat film seadanya. Ga ngarepin apa-apa. Waktu itu gue dapat jadwal film jam 7, Labyrith des Schweigens, terjemah bahasa Inggrisnya Labyrith of Lies. Bayangan gue kayaknya ni film bakalan mbulet gitu, namanya juga labirin. Ternyata emang hahaha. Tapi alhamdulillah yang mbulet bukan alur filmnya fyuh. Kasus di film yang berbelit-belit. Oke lah kalau begitu.Filmnya bagus kok. Coba tonton deh. Pasca perang dunia ke-2, masa perang dingin.

Gue ga cerita soal filmnya karena gue mau cerita soal pikiran gue yang menerawang dalam ruang gelap bioskop malam itu pasca melihat si Alex Fehling ini. Entah mengapa gue keinget Eri #ketawa getir# Di film, tu aktor ga pernah ga pake suit. Dia berperan sebagai jaksa soalnya. Kalaupun ga pake suit, dia pake kemeja lengan panjang yang digulung sampai siku gitu. Nah gimana gue ga keinget sama Eri. Yah emang penyakit delusional kambuhan. Ga bisa ngebedain antara khayal di film dan kenyataan. Kalau mau ngakuin kan jelasan ganteng Herr Fehling lah. Semua orang akan bilang begitu. Nah penyakit gue itu penyakit yang nganggep Eri paling ganteng sedunia. Sakit mata kali ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s