I fell again in love with you

Huft…..

Sahabat-kecengan sahabat-calon adik ipar, 

What a night. A very merry saturday night. Gue ngitung hari. Bukan, bukan mo ngapa-ngapain. Tapi sahabat dekat gue datang ke Jogja dan dia cuma punya waktu 10 hari untuk melakukan hal yang diidamkan manusia, semua hal yang ga ada kaitannya dengan kerja hahahaha. Masalahnya guenya juga ga beres loading kerjaannya.  Harus ke sana kesini, mana atm gue pake keblokir segala lagi#sigh.  Gue tahu dan sangat yakin bahwa apa yang kami berdua rencanakan dan impikan bisa terlaksana setengahnya aja sudah memenuhi syarat untuk bikin tumpeng syukuran #lebay.  Tapi memang itulah kenyataannya. Gue baru bisa ketemu di hari ke-3.  Bukan salah gue, dia juga punya acara keluarga. Pengajian, silaturahim di sini di situ, setor muka ke ini dan ke itu. Maklum, lebaran kemarin dia ga pulang #dilema pekerja.  Jadi sabtu-minggu ini gue mau maksimalkan untuk sahabat tercinta gue itu.

Jadi beberapa hari lalu dia bbm gue minta ditemani ketemu ttm/kecengan dia makan siang di Amplaz. Sebagai teman, ya gue sanggupin aja. Gue sabtu masih ngajar sampai kira-kira jam 12, ditambah sholat dhuhur gue bisalah nyampe Amplaz sekitar jam 1 siang, ngepasin cacing-cacing di perut gue dangdutan minta diisi. Eh tapi ternyata tu orang yang berjanji datang malah ga nongol sama sekali. Kalau gue jadi teman gue ini, sudah gue simpen nomer itu dengan nama bescheuertes arschl*ch. (tuh yang mau misuh pake bahasa Jerman, silakan tanda bintang diganti dengan huruf -0-).

Akhirnya kami cuma makan siang berdua saja. Eh berbanyak orang sih. Cuma kami ga kenal juga orang-orang yang ada di mall ini. Mereka tersebar di banyak spot makanan di lantai dasar ini. Jadi anggep aja berdua ya #abaikan racauan. Selesai makan, ngobrol-ngobrol, kami mlipir ke supermarket Perancis yang sudah diakuisisi anak negeri tercinta, apalagi kalau bukan belanja. Eh kami juga mampir ke stand pameran coklat. Salah satu pesertanya ada adik tingkat gue jauh pas di sma. Dia hampir jadi adik ipar gue. Hampir aja sih😛 Dia sudah mantep banget. Dulu di semua note dia di Fb gue selalu di-tag. Mungkin sudah dianggap keluarga sendiri #gue ketawa ini. #gue sekaligus miris juga. Oh iya, sebagai wujud persaudaraan, gue beli sekotak bakpia citra buat tentengan pulang ke rumah ntar #ga ada hubungannya sih, tapi dihubungkan aja. ga dosa kok

Eri,

Gue udah cerita belum kalau gue diultimatum teman dan kakak-kakak gue tentang Eri? Gue kan cerita ya dengan mereka. Yah cewek mah suka gitu, yang namanya cinta dan bunga-bunga mana ada bisa disimpan dalam hati. Ketok dikit aja palanya, keluar tuh cerita. Dan gue cewek, jadi gue kayak gitu hahaha #pembelaan.

Jadi ceritanya hal-hal yang bikin gue ter-intrik oleh Eri dan sekaligus membuat gue tertarik padanya itu ternyata bagi kakak dan teman-teman gue tidak bisa diterima. Mereka malah menganggap Eri itu arogan, liberal, ga patut buat gue, ga layak masuk daftar, gitu-gitu deh. Gue sampe nyengir. In the end, gue disuruh drop Eri dan move on. Cowok kayak gitu ga bisa diarepin. Lelaki yang baik itu sederhana dan religius, bukan liberal. Doh, padahal gue cuma cerita soal pendapat Eri yang bilang bahwa lelaki itu menikah salah satunya karena sex appeal perempuan (garis besarnya ya), kalau itu ga terpenuhi bisa jadi, dan besar kemungkinan, dia akan selingkuh atau poligami. Dan dueer, kakak gue yang perempuan langsung meledak. Malah mengangkat tema perbandingan hidup di barat dan di sini yang kalau di Jerman sana, lelaki perempuan yang sudah klik sex appealnya sudah ga perlu apa-apa lagi (Baca: nikah). Kita ini hidup dalam aturan agama yang membuat segalanya jelas. Nikah itu ga cuma buat sex, tapi juga dalam rangka ibadah#lah yang bilang buat ngesex siapa coba# Sebenarnya gue sendiri aslinya rada ga nyambung dengan kakak gue ini pas ngobrol. Tapi karena gue yakin MUNGKIN gue yang salah dalam penyampaian, maka gue telen aja kultum itu (kuliah tujuhpuluh menit). Intinya gue disuruh move on, ga udah kontakan lagi sama Eri, kalau dikontak ga usah dibalas.  Yes, kakak-kakak perempuan gue mah gitu orangnya. Ga nyadar apa kalau yang bakalan klepek-klepek itu gue #manyun

Sabtu ini gue sukses menahan diri ga kontakan sama Eri. Jumat kemarin ga bisa. Eri itu perhatian banget sama gue. Ga enak kalau nyuekin gitu. Salah dia apa coba? Mas GP, kakak gue, lebih rasional, dia nyuruh gue tetap memperlakukan Eri seperti teman (saja) #ini kayak nyuruh gue minum racun rasa stroberi. Sakit yang terbungkus rasa manis. Cinta tapi ga bisa mencintai#halah#

Tapi sabtu malam ini gue ga bisa ga ngepo doi. Iya, sejak siang dia sudah gonta-ganti dp bbm, nunjukin kegiatan dia di tempat kerja dia yang lagi ngadain pertunjukan tahunan. Iya, dan doi lagi main juga dengan grup band dia di sana, dia dan gitarnya. #gue klepeknya di situ. #gue suka dia karena sosoknya yang bisa menikmati hidup. Kerja jalan, ngeband jalan, seneng-seneng juga jalan. Dan gue juga ga keberatan dengan pemikiran dia. Di mata gue, dia laki-laki religius yang logis. Dan gue jatuh cinta dengan itu semua. Dia yang tidak saklek tapi pakem remnya. Dia itu real, dia nyata. Tidak seperti yang pernah gue temuin. Yang saklek namun kadang remnya ga pakem, cuma formalitas dan bungkusnya doang.

Na ja, nulis tentang Eri membuat gue jatuh cinta lagi sama dia. Berulang kali jatuh cinta. Gue di sini dia di sana. Dan gue takut gue terkena penyakit delusional. Karena anehnya kenapa hati gue malah tenang kayak gini. Ga senewen, ga muring-muring (bahasa Jawanya senewen). Halah bodo ah. Gue bingung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s