Gagal bersembunyi

Kemarin sore aku menjengok mantan ‘calon ibu mertua’ yang sedang sakit. Minggu lalu beliau baru saja menjalani operasi pengangkatan kista. Kami datang bertiga. Aku dan 2 orang teman yang merupakan sepasang suami istri. Kalau dipikir keren juga ya. Selama aku dan si mantan mengupayakan jalan kami dulu, aku malah belum pernah bertemu dengan orang tuanya. Pernah sih sekali ke rumahnya. Tapi tidak bapak ibu sedang tidak di rumah.Yang ada adik perempuannya, yang juga adik tingkat sma kami. Oh iya, si mantan ini kerja di ibukota. Jadi kami ga ketemu di rumah dia malahan.

(*Aku dan si mantan ini teman satu sma, kalau teman yang suami istri itu, si suami adalah kakak tingkat di sma dan teman di kampus si mantan). Ibu yang kutengok ini tentu saja tidak tahu posisi ini. Bagi beliau tentu aku ini adalah sebatas teman dari anaknya. Padahal …..😀

Ya begini keadaannya kalau hubungan itu diawali dari pertemanan. Sakit memang ketika sesuatu yang kita upayakan itu tak berujung seperti yang kita bayangkan. Rasa itu tidak pernah bohong. Upaya membangun cinta berdialog tentang rasa dan karsa di antara kami tak berbuah hasil. Kami pisah.

Perpisahan tu ternyata baik adanya. Gimana tidak baik, setahun ini diapun melangsungkan pernikahan. Itu baik kan? Baik bagi dirinya dan baik bagi diriku juga, karena tidak berlarut konflik dalam diriku sendiri. Bagaimanapun aku juga kan yang selalu ragu dengan perasaanku sendiri.

Rasanya ditinggal nikah itu gimana? Nano-nano dong. Diawali dialog panjang, konflik sehat dengan beda pendapat yang wajar, saling mencocokan pikiran, kamipun mantap hati masing-masing. Kami saling diam dengan putus komunikasi, tidak ada hubungan sama sekali, perpisahan tanpa akad.

Selang setahun dia pergi umroh. Pulang umroh dia pasang foto bbm yang spesial. Dengan seorang gadis yang later on jadi istrinya. Iya aku kenal si gadis sejak aku dan si mantan masih dekat. Dia pernah meminta dijadikan istri kedua kalau-kalau aku jadi yang pertama. hohohoho my life ya🙂

Anyway, jodoh sudah ditetapkan. Ikatan sudah dikuatkan dan sah. Bukan aku, tapi dia yang jadi pendampingmu. Orang-orang boleh jadi bilang aku lebih ayu, tapi jelas-jelas dia yang payu (*payu=laku -bahasa jawa). Semoga ibu cepat sembuh pulih seperti sedia kala. Nanti saya bisa sowan lagi belajar masak dan jahit kepada ibu. Amiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s