Tentang ranking sekolah anak *racauan waktu subuh*

Masih puasa kan? Alhamdulillah. Kenikmatan tiada terbilang bisa tetap menjalankan puasa di bulan indah ini. Sungguh puasa itu benar-benar untuk orang yang beriman, karena di luar sana masih bisa dijumpai mereka yang tidak berpuasa (belum) dan gagal menahan godaan untuk tidak berpuasa. Disyukuri ya teman-teman. Alhamdulillah. Allohu akbar.
#kucek mata
#heran
#barusan yang nulis gue bukan ya hahahahaha

Gue selalu tarawih di masjid dan menjaga sholat shubuh berjamaah di masjid selama bulan ramadan. Bukan apa-apa. Gue cuma ingin menjaga ibu, menemani beliau berjalan kaki menuju dan pulang dari masjid. Pokoknya gue cinta ibu gue. Berjalan bersama beliau sepertinya bisa merasakan transfer kasih sayang yang luar biasa.

Hikd jadi pengen melow. Nulis kayak gini aja gue sudah berkaca-kaca. Tetapi jujur dari hati, berjalan bersama orang tua di pagi subuh nan dingin di kota jogja dalam usia dewasamu dan usia orang tua kita yang menjelang senja sungguh merupakan pengalaman psikologis yang dalaaam sekali. Semoga Alloh memanjangkan umur keduanya, memberi kesehatan dan menjaga selalu keimanan kami yang satu kepadaNya amiin.
#heran lagi. Gue bisa nulis kayak gini.
#ada apa gerangan?
Hahaha sudahlah.

Tadi itu cuma sebuah prolog yang panjang untuk satu postingan curhat ga jelas ahad pagi ini😀 . Padahal inti cerita gue tu sebenarnya yang ini.
Hari sabtu kemarin anak-anak terima raport kenaikan kelas kan? Nah pas isya-tarawih di masjid, orang-orang dewasa yang sok bijaksana itu seringnya bertanya ke anak-anak (entah anak siapa)
Ranking berapa?
Naik kelas ngga?
Nilai x, y, z-nya berapa?
Termasuk ibu gue juga nanya-nanya gituan. Dalam hati gue berdesir (halah istilahnya). Beneran. Hati gue berontak mendengar pertanyaan-pertanyaan itu. Kenapa hal-hal kuantitatif sih yang ditanyakan? Kenapa ya gue merasa pertanyaan macam itu tidak adil dan terkesan menyimpan tujuan diskriminatif? Untuk membedakan, menggolongkan, salah-salah bisa memupuk kesombongan di satu sisi dan menimbulkan rasa inferior di sisi yang lain. Masalahnya, mereka itu anak-anak yang polos nan imut, masih SD juga sih. Mereka kayak spons yang bisa menyerap semuanya tanpa filter. Bagiku itu kategorisasi yang sesat. Kasihan kalau anak-anak itu jadi ikut-ikutan memandang teman-temannya seperti cara orang dewasa. Miris ih.

Gue lantas kepikiran Eri. Pengen tahu pendapat dia kalau nanti jadi ayah dan punya anak, apakah dia akan menanyakan perihal ranking juga.
Sebenarnya nanya gini juga cuma alasan sih. Gue emang lagi kangen dia hahahaha. Bosan kalee tiap bbm cuma bilang selamat buka puasa. Maka usai tarawih terlayang bbm pendek nanyain sikap dia tentang hal ini. #lama-lama gaya bahasa gue mirip bahasa dewan yang terhormat, pake nanyain sikap segala😛

Dan seperti biasa jawaban dia disampaikan secara gamblang layaknya satu chapter penjelasan amandemen undang-undang #lebay gue. Eri bilang ‘tidak’. Dia tidak akan menanyakan ranking ke anak. Yang penting nilainya layak. Penjelasannya:
Pelajaran bukan segalanya. Lebih baik prestasi pada jiwa-keunggulan soft compentence,  tidak selalu pada materi logika dan memori a.k.a. hard -compentence. Orang sukses lebih pada kekuatan mental dan jiwanya (#kupikir ini yang dimaksud sukses dalam artian umum sebagai manusia, bukan hanya sukses materi) dan bukan karena kemampuan memori menyimpan data atau kemampuan logika mengolah data. Dia sudah gunakan itu di SDM untuk seleksi pegawai atau penilaian kenaikan pangkat di kerjaan dia. Hard kompetensi cenderung mudah dipelajari, kemampuan komputer, berhitung, berbahasa, penguasaan ilmu dll. Soft kompetensi seperti integritas, kemampuan berperilaku benar meskipun dalam tekanan, dorongan berprestasi, kemampuan melayani, mengarahkan orang, kepemimpinan, perhatian terhadap kualitas dll. Soft kompentesi cenderung masih diabaikan. Harus dipupuk sejak dini dengan demikian harapannya anak/orang akan berprestasi di manapun dia berada. Selesai penjelasan.

Sebenarnya yang gue butuhkan cuma jawaban ‘ dia tidak akan menanyakan ranking pada anak (sendiri atau anak orang lain)’. Itu saja. Ada pengalaman traumatis pada diri gue perihal ini. Penjelasan panjang lebar dia tentang hal ini malah memberi kesan gambaran profil dia nanti sebagai ayah. Ya nggak apa-apa sih. Visi misi masa depan juga. I think he is gonna be a great father someday. Semoga gaya mendidik dia tidak terlalu keras dan saklek ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s