curhat kerabu

Gue mau curhat, halah😀

Ini sudah masuk tahun ke-3 sejak gue lulus master. Sesaat seusai Masterverteidigung aka. master defense, kedua profesor gue langsung nawarin promosi s3 alias lanjut doktoral. Waktu itu gue ga bisa mikir, cuma bisa bilang terima kasih dan akan pikir-pikir dulu. Si bapak dan ibu profesor yang baik hati itu mempersilakan daku untuk berpikir. Eh ternyata mikirnya sampai sekarang hehehe.

Terus terang wacana (halah) promosi s3 itu masih setia melayang-layang dalam pikiran. Terkadang dia tampak begitu nyata dan terasa menggebu memuncak di dada. Terkadang juga dia berada dalam bayang-bayang ketakutan, kekhawatiran, atau entahlah apa namanya. Gue ga tahu apa yang gue pikirkan. Gue bingung. Bukan bingung soal tema atau segala hal yang menyangkut tentang studi s3-nya. Ini sepertinya lebih ke -lu ga tahu apa yang lu pikirkan-bingung. Nah lu bingung kan ??? Gue juga😦

Pernah gue ngomong ke Eri.

G: “Kalau semisal ditinggal istri sekolah lagi ke luar negeri gimana lu?”

 E: “Maksudmu, kalau istri lebih tinggi gelarnya pendidikannya?” (concern ke sosial kemasyarakatan😛 )

G: “Bukan. Kan ke luar negeri tu. Kangen ” (kok kesannya gue lebih nepsong ya sama dia? #tepok jidat#)

E: “Hehehe iya sih. Kalau cinta pasti kangen ya? Emang berapa lama?”

G: “3-4 tahun gitu”

E: “Waaa lama juga” (Emang lu kira ikut tour, bisa selesai 2-3 minggu😛 )

#chat berakhir#

Gue belum ngomongin lagi hal ini ke Eri. Jujur, gue sih yakin meski beda strata pendidikan, si Eri itu akan sangat kelihatan lebih pinter daripada gue hahahaha. Dia masih S1 bukan karena ga kuat lanjut s2/s3, tetapi lebih karena gila kerja dan gila uang (karena itu gue cinta sama dia😛 ). Buktinya sudah banyak. Obrolan kami selalu nyambung dan dia selalu bawa hal-hal baru ke hidup gue, pemikiran dan cara pandang yang tidak biasa, yang makin membuat gue cinta, halah. Dan gue ga pernah berhenti bersyukur dipertemukan lagi dengan Eri. Lelaki berintegritas diri yang tinggi. Ga merasa terintimidasi dengan cewek. Dia pernah bilang ke gue, dia tahu apa yang dia tawarkan. Dan gue cuma bisa mringis lumer.

Oke urusan perbedaan status pendidikan laki-laki dan perempuan selesai (in case kalau gue married sama dia kaleee) Sekarang urusan kangennya. Terus terang gue ga bisa kalau disuruh pisah jauh-jauhan dari suami gue kelak. Lu ga tahu betapa berperang dengan sepi dan rindu itu sangat berat. Apalagi gue orangnya soliter gini. Suka kesepian bombay dan sok menikmati kesendirian. Itu  kan dulu ketika konsepnya masih single. Ntar kalau sudah nikah, kesendirian itu dalam konsep dobel. Artinya gue dan suami gue itu dihitung satu. Mana bisa dipisah fisik satu di sono satu di indo. Bisa nggak sih? Entahlah, gue masih bingung.

Sementara itu, tawaran s3 dan segala sistem pendidikan dan mekanisme pembiayaannya plus tema-tema riset yang menarik bersliweran sepanjang tahun. C’mon, think thik and make up your mind girl.   

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s