here goes the story of you

Jarang-jarang senin ga ada kerjaan hehehehe. Daripada kelihatan nganggur banget, mending gue nulis curhatan sekalian cerita tentang first love gue.

Iya, terhitung agustus 2014 kemarin, gue terlibat (halah) kontak agak dekat dikit dengan ex teman smp dan sekaligus pemegang trophy cinta pertama gue. Sebenarnya kami nyambung lagi sejak tahun 2010, thanks to fb😛 . Sudah mulai say hello haha hihi, nanya ini itu bla bla bla. waktu itu bisa dibilang kami LDF, long distance Friendship, gue lagi di Jerman, dia pendidikan di Jakarta. Sebenarnya adik doi juga lagi sekolah di Jerman. Adiknya ini yang kasih tahu si kakak kalau gw juga lagi di Jerman (itu opening kami di inbox fb).

Rasanya gimana ketemu dengan ceng-cengan jaman SMP? deg-degan dan kagum, sedikit terpesona (ini di gue lo, di dia sih aye mah kagak tahu). Suer, dia ganteng deh, badannya bagus (liat di foto sih tapi😛 ). Kalau soal badan ini sih sudah gw duga dari dulu. Masalah dia jaman smp kurus tinggi kan cuma masalah waktu aja. Apalagi hasil kepo gw jaman SMA menyatakan dia ikutan Tonti aka baris berbaris. Harusnya bodi jadi gede paling enggak ya berbentuk dikit lah, ga macam cuma jangkung mirip tiang bendera gitu.

flashback masa lalu

Gw dan eri satu smp di Jogja. Kita sekelas di kelas 1 dan 3. Kelas 2-nya kami dipisah. Dicampur secara acak dengan kelas pararel yang lain. Gw masuk kelas 2A, dia masuk kelas 2B. Gw termasuk cewek pemalu yang sama sekali ga punya teman cowok. Ketika masuk smp nilai gue tertinggi dan pas keluarpun dapat angka tertinggi. Mungkin orang tahunya cuma itu, sedangkan hal-hal yang lain orang ga tahu, kecuali beberapa teman dekat gue. Gue bukan cewek manis ataupun putih nan tinggi yang jadi idola di sekolah. Pokoknya cewek biasaaaaaaaaaah banget yang paling cuma ngumpul dengan teman dekat dan ‘agak’ rajin mengunjungi perpustakaan.

Kalau di cerita-cerita remaja, biasanya si gadis culun suka pada cowok bintang sekolah, di kisah gue ini ga ada yang semacam itu. Gue ga suka cowok putih yang bodinya bagus karena main basket/voli. Gue juga ga suka sama teman cowok yang ke sekolah bawa gitar trus genjrang-genjreng di teras sekolah. Nope. Biasa aja mereka di mata gue. Sama cowok pintar di kelas juga gue ga minat. Dia di bawah gue dulu, tapi sekarang lg phd di negeri pangeran harry sonooh hehehehe.

Lah terus siapa si Eri ini? Ya he was nobody juga, at least di masa itu. Cowok jangkung kurus yang biasaa juga. Pendiam, ramenya kalau dengan teman-temannya sendiri. Gue ga pernah ngomong sama dia di kelas 1 dan 2. Tapi dia orang pertama, cowok satu-satunya yang nyuri perhatian gue di hari-hari pertama sekolah kami di kelas satu dan itu mengendap di otak ini. Jadi saat itu minggu ke 2 sekolah, pelajaran matematika, gurunya pak Damiri. Beliau menerangkan tentang himpunan dan meminta kami menuliskan lambang himpunan itu seperti apa. Eeeeeeeeeng kayaknya ga ada tahu deh hahahaa. Trus si jangkung eri ini maju, dan nulis di papan tulis. Eaaaaaaa that was the moment I noticed him. I feel like, hey, he’s cool and smart too😀 . Tapi selanjutnya ga kejadian apa-apa juga sih. Masih diem-diem. Biasa aja. Kayak ga ada dia, guepun juga kayaknya ga ada di matanya dia. Padahal, kami ikut kegiatan patroli sekolah bareng lo. Doooh kalau ingat jaman itu. Masa iya sih, ga pernah kepikiran buat ngobrol kayak orang normal gitu.

Dari kelas satu gw sudah memorized Eri. Tidak dalam rangka nyari info sih, tapi ya emang gue orangnya tipe pengamat dari jauh aja. Dia ke sekolah naik sepeda. Rumahnya memang lumayan agak jauh di luar kota sedang gw ke sekolah jalan kaki. Rumah dekat sih dengan sekolah, paling jalan kaki 10 menitan. Aslinya nilai gw bisalah diterima di smp terfavorit di jogja, cuma dengan alasan jarak supaya ga perlu antar jemput, akhirnya gw terdampar di smp ini. Gue pribadi sih ga peduli, yang penting sekolah aja hehehe.

Gue mulai muncul rasa agak-agak lain ke Eri itu pas kelas 3, dan kian menggalau di semester 2 alias semester akhir. Demi martabat diri dan keluarga, kelangsungan masa depan yang cerah dan ditambah rasa takut bertepuk sebelah tangan, gw repres dan tekan kuat-kuat perasaan itu. Banyak yang dipertaruhkan kalau nurutin rasa suka gw pada eri. Gue pikir kalau sampai ketahuan gw suka sama dia pasti suasana kelas bakal jadi aneh. Tahu sendirilah anak-anak SMP lagi kayak apa hormonnya yang sedang bergolak. Teman-teman kami semua lagi berada dalam masa suka-sukaan dan atau tumbuh suka dengan lawan jenis. Ada yang dengan teman sekelas (juga) beda kelas, adik tingkat atau dengan seseorang antah berantah sana. Pastinya kami bakalan di cie-cie-in (bahasa sekarang gitu kan ya?) sok pada ngedukung gitu. Gue dan eri kan sama-sama pendiam dan pemalu. Bisa habis muka kami merah. Lagian gue ga bakal siap ditolak kalau ternyata dia ga suka gue. Takutnya ngaruh ke nilai gue dan nilai dia. Pokoknya dia suka ataupun tidak, dua-duanya ga worth it. Pertaruhan yang tidak sebanding sih kalau menurut gue di masa itu. Jadi so long and good bye dear love.

Tapi meskipun sudah diniatin ga akan ngurusin perasaan, yang namanya suka sampai muka terasa panas kalau ketemu itu tetep ga bisa seratus persen dihilangkan. Kalau di kelas gw bisa bersikap dingin, di luar pas mak brek ketemu dia rasa grogi itu tetep ada. Bagiku eri adalah cowok pemegang rekord pertama:

#cowok pertama yang jalan denganku

Entah dia ingat atau enggak, dengannya aku pernah jalan kaki bareng, meskipun paling beberapa ratus meter doang. Dan rasanya itu semilyar bintang (sejuta bintang ga cukup :-P)  Konteksnya jelas bukan kencan. Waktu itu aku dan eri serta beberapa teman jadi utusan sekolah untuk mengikuti lomba bidang studi. Pelaksanaannya hari minggu di sebuah SMA di jogja bagian utara. Eri yang rumahnya jauh di jogja barat tidak tahu lokasi sma tersebut. Lalu gue nawarin diri untuk bareng dengan dia dengan cara janjian ketemu di sekolah,  karena dari sekolah cuma perlu naik bis sekali.

So, that was it. Gue dan eri kencan #eaaaaa😀 .  Dengan segala keterbatasan di masa itu. Ga ada kok pake wasapan/bbm/twitter dll. All we have was only promise to meet at school or near our school.

Gue dan eri janjian jam 8/9 pagi ketemu di dekat sekolah. Untuk dua orang yang sebelumnya tidak pernah saling ngomong, janjian ini adalah rekord, kasus, sensasi, sesuatuuh #syahrini punya.  Gue dari rumah jalan kaki, like I said, rumah cuma sepelemparan galah dari sekolah. Ketika berangkat rasa hati masih normal-normal aja, biasa gitu. Mendekati perempatan (sekolah letaknya pas di pojok perempatan) perasaan masih biasa juga. Sesampai di lokasi, gue baru nyadar. Ini hari minggu, sekolah tutup dan gue ada di sana dengan memakai seragam putih-biru, seragam smp. Aneh banget di liatin orang-orang yang berhenti di traffic light.  Gue lantas pindah lokasi. Knowing that eri’s bus came from west, gue putusin buat nyebrang jalan nunggu sesuai arah kedatangan bus. Di pojokan ada pos jaga polisi tepat di perempatan jadi lumayan terlindung dari pandangan orang-orang tapi cukup leluasa untuk melihat bis datang sewaktu-waktu.

Sebentar duabentar time is tickling. Saat gue sadar gue nunggu eri, sendirian, mulai deh jadi gelisah. Yang pasti muka gue anget trus rasanya deg-degan. Waktu melambat. Setiap ada bis berhenti di perempatan gue liatiin terus. Kosong. Nunggu lagi. Gue ga konsen.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s