Hujan di dresden

Tulisan masa silam, tahun 2011, dipostingnya sekarang, gara-garanya seseorang😉DSC04691.JPG

Dresden di kala hujan, menyenangkan. Ada rasa tenang menyusup dalam hati saya ketika hujan datang. Terlebih seperti saat ini, saat tadi siang matahari bersinar lumayan terik. Ternyata hujan yang datang berhasil merubah segalanya.

Kedatangannya diawali dengan angin yang mulai sedikit kencang, lalu datang setetes demi setetes air jatuh, untuk kemudian menjadi deraian indah yang diturunkan dari langit. Saya sengaja turun dari kamar di studentenwohnheim sembari menenteng sampah ke depan. Setelah membuang sampah di penampungan tak jauh dari kompleks tempat tinggal saya, sebelum kembali ke gedung, sedikit saya tengadahkan muka, basah air terasa segar. Ya Alloh saya cinta hujanMu.

Kalau pada suatu masa saya mendapati hujan dalam perjalanan, seringkali dengan reflek saya akan memperlambat langkah, sesekali akan menyingkirkan payung yang melindungi tubuh saya, sekedar untuk menyapanya, menyapa hujan, merasakan percikan airnya di wajah saya.

Masih ingat ketika di jogja dulu, saya pasti akan duduk di tepi jendela memandang curahan air di luar sana. Melihat tetes-tetes air mulanya jatuh pada setiap benda yang temuinya, di daun, di genteng rumah tetangga, di teras, di jalanan, di atas jembatan, di mana-mana. Tetes air yang untuk kemudian mengalir bersama tetesan yang lain. Berkumpul, satu tujuan. Tempat yang lebih rendah. Dari yang mulanya berbeda-beda menjadi sama, satu tujuan, satu muara. Karena mereka sama, satu sifat, satu hakekat.

Saya menyukai hujan, meskipun efek kehujanan kadang menjadikan pilek dan pusing. Tapi itu tak melepas kecintaan saya terhadap kejadian alam satu ini. Bagi saya hujan adalah anugrah, Ia mencabut dari keramaian, membawa saya ke ruang dan waktu, sebuah kesempatan. Ia seperti menghadirkan benteng yang memisahkan dengan dunia sekitar. Menjadikan istimewa. Istimewa dalam kesendirian. Untuk apa? Bisa jadi untuk berpikir. bernyanyi, sekedar menikmati pemandangan, bermain-main dengan apapun, bisa nyata atau maya. memanjakan indera. Saya tak dapat menjelaskan. Butiran air langit, daunan basah, jalanan sepi, suara binatang, air cucuran atap, semuanya bisa menjadi lain saat kau menikmatinya. Saat saya jadikan mereka lain, dengan kesendirian saya, dengan hujan membersamai kami, saya dan mereka.

Mungkin itu sebab hadir cinta atasnya. Karena saya menyukai kesendirian lalu saya cinta hujan, atau sebaliknya? Hujan menyendirikan saya, dan saya menikmatinya.

*BTW* Pernahkan mengamati rumputan di luar kala hujan ataupun sesaat setelah hujan? Mungkin ini pendapat subjektif, tapi di mata saya, hujan menjadikan mereka menjadi tampak lebih hijau. Efeknya menjadikan kita lebih tenang, menyejukan, menurunkan detak jantung, melancarkan aliran darah dan pernafasan *lebay ya? :-D*

And I’ll be lying here waiting
Hoping lov’ll come my way
(Save it for a rainy day)
But if the sun’s still shinin’
I’ll save it for another day
(Save it for a rainy day)

(Rainy day: the coors)

Zellescher Weg 41d. musim panas 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s