Antara bola euro, ngemil dan beberapa percikan di antaranya (edisi imsonia akut)

Wow sudah hampir setengah satu malam. Masih terjaga dan belum terpincing mata ini rupanya. Emang mau ikut-ikutan demam euro juga?. Nggak. Aku di kamar sedangkan tivi di ruang depan sudah tidak terdengar lagi suaranya. Pertanda sang penguasa remote, ayahanda tercinta, sudah berkehendak untuk pergi beristirahat, sementara kedudukan italia-kroasia masih satu kosong untuk kemenangan di sisi negeri pizza itu. Not bad. Mach weiter so !

NGomongin soal bola euro pasti tak lepas dari acara begadang malam. Ya iyalah, masak begadang siang-siang sih. Berhubung kelompok maskulin di rumah cuma diwakili oleh sosok ayah, maka kebiasaan begadang beliau ini lah yang akhirnya menjadi objek pengamatan ga penting bulan ini (ngomong apaaaaaa coba). Ternyata meski di mana-mana dilabel secara umum dengan merek dagang “bedagang” kegiatan melek malam ini bervariatif satu dengan yang lain.Ada yang bilang lebih asyik kalau rame-rame, yang lain malah berpendapat itu berisik. Kaum pria di sekitar rumah suka berkumpul menjelang jam-jam begadang (say around 8 to 10 in the evening), tapi pas teng waktu yang dinantikan hampir tiba, mereka satu per satu akan pergi pulang kembali ke rumah masing-masing dan menikmati sendiri tayangan bola di tivi. Nggak tau apakah ini karena toleransi biar ga ganggu atau karena takut istri, atau malahan takut ketahuan suka ga khatam nonton bolanya karena seringnya malah gantian ditonton bola alias ketiduran di depan tivi.

Kebiasaan lain yang katanya sering hadir bersamaan dengan kegiatan begadang adalah menyediakan camilan. Ga semuanya sih tapi ini Based on obrolan favorit arisan ibu-ibu minggu ini (sempat nguping karena arisannya pas kebetulan di rumah) saat membahas tema camilan begadang euro 2012 (hahahha sok-sokan kasih tema segala :-P). Dari beberapa keterangan yang bisa dikumpulkan ternyata ada beberapa tipe camilan dan tipe penikmatnya yang hadir dalam perhelatan akbar olahraga sejuta umat itu. Pertama, camilan ringan dan kering, bahasa jawanya disebut klethikan. Anggotanya meliputi: lanting, aneka macam olahan kacang (kecuali kacang rebus), peyek-peyekan, kripik-kripikan, roti kering dll. Penikmatnya harus memastikan diri mempunyai gigi bagus, paling tidak mampu mengunyah sempurna, dan tidak berlubang atau apapun yang memungkinkan terjadinya “kegriyul”. Itu bahasa jawa lagi. Istilah Indonesianya belum ketemu. Pokoknya peristiwa keplesetnya makanan saat mengunyah yang bisa jadi menimbulkan rasa sakit pada gigi dan hilang minat untuk makan lagi. Tidak termasuk dalam golong ini adalah ayah saya. Beliau anti makan makanan seperti ini karena trauma “kegriyul” tadi. Ngomong-ngomong, informasi asal-asalan bisa juga ditambahkan yaitu bahwa mereka yang “penakut” yang lagi ga ada teman bisa cukup terhibur dan tidak terlalu dirundung sepi karena sensasi makanan jenis ini yang cukup riuh rendah saat beradu dengan gigi-geligi. (just beware of the “gegriyul” thing please)

Selanjutnya urutan kedua adalah camilan ringan empuk/basah, biasanya kue-kue atau roti, lemper, pastel, olahan pisang kecuali kripik pisang, dll. Ini favorit ayah. “Enak le mamah” enak ngunyahnya, dan tidak brisik, makanan dengan toleransi sesuai dengan semangat demokrasi😀.

Sedangkan yang nomer tiga adalah camilan berat kering ataupun basah. Kelompok makanan ini beranggotakan keluarga mie instant goreng/rebus, mie/nasi goreng baik disertai pelengkapnya ataupun tidak (bakso, telur, sawi, kornet, dll). Bapak tetangga samping rumah adalah penggemar camilan tipe ini. Ibu tetangga suka mengeluh (kadang terdengar pamer juga) bahwa suami beserta dengan putra-putranya suka heboh masak berjamaah untuk keperluan ini.Coba dihitung-hitung pengeluaran bulanan gara-gara euro ini, pasti bengkak, untuk beli mie, telur, olahan daging dll. Ayooooo ada yang mau bantuin si ibu ngitung? Saya mah ogah😀.

Yang keempat bisa ditambahkan mungkin golongan camilan buah. Tidak ada tetangga kanan kiri yang mengaku nyamil buah ketika nonton bola. Tetapi denger-denger harga buah makin naik aja, seiring dengan kenaikan harga minyak, telur, indomie, dan kebutuhan untuk ruwah, puasa, dan lebaran hidup lainnya. Nyolong curhat karena di eropa sana kan ga ngalamin demam euro seperti ini.

Ada juga lo yang tidak ngemil saat begadang nonton bola. Suami ibu tetangga yang lainnya gitu. Ga suka makan macem-macem. Tapi merokok. Katanya “kalau sudah merokok, kenceng banget kayak kereta. Kalau dihitung kan tetep boros juga kan” (Ya ga usah dihitung bu, kan ga jadi boros :D)

OOT: Tidak suka bola—tidak begadang— tidak ngemil– hemat. Iyakah? Mungkin. Tapi barangkali golongan orang-orang seperti ini harus siap jika suatu saat ketika keponakan saya datang ke rumah dan mengatakan pada mereka dengan setengah berteriak bernada kecewa “Waaaaaah RA KEREN ra nonton X vs Y mau bengi” (ga keren bagi mereka yang ga nonton x vs Y semalam :-P)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s