Temen yang ngeselin 

Pagi-pagi di-line message teman, tanya kesibukan hari ini. Saya bilang akan mengajar dari siang sampai malam lalu saya tanya ada apa. Dijawab tidak apa-apa, hanya ingin ketemuan. Karena saya memang pagi sampai siang hari itu lumayan senggang maka saya kode bisa, kapan dan di mana. Yang membuat saya kesal adalah setelah mendapat jawaban tersebut dia menjawab : “Ya pagi ini sih bisa, kalau kamu mau …” 

I scratched my head, really. Yang nanya siapa, yang pengen ketemu siapa? Dia kan? Kok dia jawabnya “…..kalau kamu mau…” Padahal sudah jelas-jelas saya jawab bisa, kapan dan di mn. Kesel sekali rasanya. Kenapa jadi saya yang seolah-olah butuh, kenapa jadi saya yang “ketiban sampur” harus menentukan next step pertemuannya. Trus saya bilang “la yang butuh ketemu sebenarnya siapa ya hehehe” Entahlah kelanjutannya bagaimana ini. 

Advertisements

libur di Jogja

Hari pertama gawe mata langsung sepet, punggung juga sampai panas saking pegelnya. terbukti, libur benar-benar telah usai. Maka hentikan mimpi, kemas diri hadapi kenyataan :D.

Hai, bagaimana liburan kalian?

Jujur, dulu gue pikir gue akan bahagia kalau gue ga ngapa-ngapain trus bebas mau ngapa-ngapain. Tapi ternyata semua ini salah. Liburan natal tahun baru yang kalau untuk pengajar itu terhitung lumayan lama liburnya malah bikin gue ga produktif. cuma gulang-gulung ga karuan, ga jelas. Jogja ga enak banget bagi para penghuninya kalau pas musim liburan gini. Karena mau ke mana-mana harus nambah jam perjalanan. Jelas tidak akan bisa sampai tepat waktu kalau untuk lepas dari Kleringan aja harus macet sejam dua jam dulu baru bisa cus sampai Krapyak atau tempat lain. Gue jadi merasa bersalah kepada para pendatang dan pelancong yang ingin menikmati Jogja. Jelas tidak akan menemukan Jogja yang seperti biasanya lah kalian. Ruwet hiruk pikuk itu bukan jogja sehari-hari, tapi jogja dalam liburan.

Memang tidak bisa menyalahkan siapapun dalam hal ini. Sistem liburan kita itu gotong royong. Satu libur semua libur juga. Gue kadang rindu libur di Jerman sana. Enak gitu. kalau orang gawe bisa ngatur liburnya sendiri, disesuaikan dengan kebutuhan. Yang penting 30 hari jatah libur setahun itu terpenuhi. #Indonesia kapan #ngayal lageee Besok-besok lagi kalau datang jangan pas liburan panjang gini ya. Takutnya kami ngecewain.

Sejauh ini gue sudah mencatat beberapa kekecewaan yang bisa gue tebak dirasakan oleh para pelancong.

  1. Macet: ya gimana lagi.  Hampir semua ruas jalan sampai yang jalan anak tikus pun dipadati mobil pribadi, carteran dan bis pariwisata. Gue liat banyak plat nomor kendaraan yang tidak gue kenal kalau tidak melihat buku pintar RPUL (Rangkuman pengetahuan umum lengkap. Hayo siapa punya :P). Plat B ? wuih itu kleleran di jalan. Plat AB malah jarang-jarang. Ngalah bro 😛
  2. Sulit cari tempat parkir. Jelas lah ini konsekuensi dari naiknya volume kendaraan yang masuk ke Jogja (bahasa liputan mudik di tipi-tipi :D). Naaah hal ini menimbulkan kekecewaan nomor 3 yaitu:
  3. Lahir tarif parkir liar binal ga masuk akal. Hiks….. Luar biasa kecewa gue dengan ini. Gue paling benci dengan orang aji mumpung yang tidak punya angka normal simpang toleransi sama sekali. Naikin sih boleh ya. Tapi ya jangan lah keterlaluan sangat. Malu tauuu.
  4. Harga kuliner yang tidak masuk akal. Nah kalau ini kakak gue kena. Padahal dia orang Jogja yang tinggal di Bantul :P. Waktu itu beliau jajan di Bantul juga, mungkin sekitaran depan pasar Bantul daaaan………… harga sate dia diketok saudara-saudara. Dia yang orang Bantul juga jajan sate di Bantul kena harga wisatawan. Terang aja dia sewot ga khatam-khatam trus nulis dan posting tulisan di berbagai grup media sosial yang dia punya. Sabar ya mbak. Gue bisa ngerti kekecewaan dia yang tiada tara itu. Karena tempat kejadian perkaranya kan di Bantul. Bantul yang dia bangga-banggakan karena belum kena proyek mall-isasi kayak kota Jogja. Yang menurut dia masih perawan. Yang melindungan pedagang pasar tradisional karena tidak mengeluarkan ijin untuk membuka toko ritel. Tapi ternyata ngetok harga kuliner berlebihan. Malu kali lah :P.
  5. Pengurangan servis. Ini dialami bapak. Jadi beliau beli gudeg dan yang beliau dapat adalah sayur tahu. Yes, bagi beliau itu adalah sayur tahu karena gudeg yang notabene adalah nangka muda itu jumlahnya lebih sedikit daripada tahu yang menemani gudegnya. # FYI: gudeg itu kan isinya olahan nangka, sambal goreng krecek tempe, dan areh dari blondo, biasanya ditambahi ayam, tahu dan atau telur coklat gitu. Positive thinking aja, mungkin sediaan nangka gudegnya benar-benar habis guna memenuhi kebutuhan para wisatawan. Jadi ikhlaskan lah #angel mode

happy new year 2018

With all the pains, hurts, dissapointments, blindness, awareness from the very deepest part of my heart I wish you a happy merry new year. 
I am sorry that I have put you and me in this position. We met for a reason to be learnt. And now it is time to end it. I thank the lord above really for the heart broken. 

Gestorben ist der, wer vergessen wird

But you won’t. I will not forget you. I would not let my self forgetting you. That is why you will not die. 

tumis ayam ala Thailand “pad ga prao” wanna be

 

Pad ga prao. 

Pertama kali makan ayam tumis ala thai di resto Phuket yang di jalan tamsis. Sengaja pesan ini karena ketika makan di songkhla resto daerah ringroad utara itu ga sempat pesan. Keduluan kenyang dengan tom yum sama pad thai serta roti naan di sana. #laper apa laper 😕. Pad ga prao di phuket ini bagi saya rasanya terlalu asin. Mungkin karena penambahan kecap asin yang tidak disertai dengan pengurangan garam. Entahlah.

Nah karena masih penasaran dengan thai food dan karena mas profesor seorang thai man #halah. Maka acara proses mengenal makanan thai ini masih berlanjut. Di samping karena aslinya saya juga orang yang suka coba-coba sih. Seperti waktu dulu pernah coba bikin papaya salad sendiri. Enak kalau buatan sendiri trus dimakan sendiri. 😀.

Memasak sendiri

Kebetulan kali ini ada ayam segar yang dibeli ibu tadi pagi pas jalan-jalan. Jadi kepikiran untuk memcoba bikin sendiri pad gaprao. Bahan utamanya sudah ada semua. Yaitu daging ayam (semua daging bisa dipakai kalau hasil googling bilang. Ayam/sapi/babi…) serta daun basil. Nah ini. Terkait dengan basil. Yang diminta itu adalah sweet basil, yang di Indonesia jarang dijual dan ditanam orang. Bagi penganut garis keras, tanpa sweet basil itu namanya bukan pad ga Prao. Yowis gpp. Saya ngikut aja. Disebut tumis ayam aja ya. 

Kemangi untuk daun sweet basil

Berhubung keberadaannya sulit diketahui di Indonesia, maka saya memakai daun kemangi. Kemangi ini juga termasuk keluarga basil. Dia jenis lemon basil. Aromanya khas dekat dengan aroma lemon kan? Kalau ada waktu bolehlah cari tahu keluarga basil ini siapa saja. Yang pasti thai basil sering hadir dalam masakan thai (beda lagi ini dari sweet dan lemon). Lantas dari eropa ada juga italian basil yang muncul di menu Italia atau Eropa lainnya.

Tumis ayam kemangi 

Bahan: 

# Daging ayam. (Saya cincang seperlunya)

# Daun kemangi secukupnya. Kalau saya, makin banyak makin enak. Beneran.

# bawang merah iris tipis

# bawang bombay dan bawang putih dicincang

bumbu cair idealnya ada kecap hitam, kecap ikan, kecap asin, kecap manis, saus tiram dicampur jadi satu. Cuma saya adanya hanya kecap manis saja. Maklum orang jogja *alesan. Jadi saya persiapkan kecap manis di mangkuk ditambah garam dan kaldu jamur non msg. Sudah itu saja.

# cabai (rawit) sesuai selera dirajang halus.

 

Cara membuat:

1. Tumis bawang bombay, bawang putih yang dicincang. Masukan bawang merahnya juga. Tumis sampai harum ke mana-mana.

2. Masukan daging ayam. Aduk-aduk sebentar.

3. Masukan cairan bumbu kecap dkk. Masak hingga berubah warna. Icipi rasa

4. Masukan irisan cabai. Cicipin lagi pedes apa nggaknya.

5. Trakhir masukan daun kemangi. Aduk sebentar. Trus angkat. Usahakan kemangi masih cantik. 

6. Pindahkan ke piring segera. 

Kalau makan pad ga prao ini biasanya dengan nasi putih dan telur ceplok yang pinggirannya kriuk kecoklatan itu. Tapi tanpa itu juga tidak apa-apa. 

Selamat makaaan 😊😊😊🌹🌹🌹😊😊😊


dangerous man

What is a dangerous man? 

What shapes a dangerous man?

 If a man is dangerous, then why would one get attracted to him?

 If a man is dangerous, what should one do to avoid that?

If he is so dangerous to me, then how could I be so in love with him ?

Ngeri  #cerita perempuan

Setelah gue telateni nyatet semua debet kredit keuangan gue, yang terjadi sekarang adalah gue nanar. Gimana enggak? Baru tanggal 20 duit neraca gue sudah minus 500rb aja. Ya sih. Ada pengeluaran yang ekstra lebih besar. Gue harus nyicil bayar kacamata 500rb dan bikin paspor 355rb, trus beli barang titipan sahabat gue di jerman sana hampir sejuta. Hohoho. Ini ni bocornya saudara-saudara. Oke deh,  sepertinya minus ini bisa dimaafkan #bisa aja alasan 😀😀.

Sebenarnya bukan ini aja yang bikin gue ngeri. Kebiasaan suka gesek gue yang akhir-akhir ini kelewatan. Masih untung cuma gesek debit, yang artinya emang duitnya ada kalau yang digesek cc bisa cemut-cemut pala detektif conan kan #gue ga suka barbie

Sifat indulgence gue parah. Masih untung *nah kan. Gini ini yang ga gue suka. Karena suka bilang masih untung jadi berasa ga atau kurang bersalah. Huft* gue masih kekep dompet kenceng ga belanja online pas tanggal 11.11.  kemarin yang juga hari ol-shop nasional ya katanya. Tapi itu ga berarti gue trus suci tak bernoda gitu. Gue sudah proven guilty duluan di awal bulan, beli baju dan skincare yang a bit pricey. Trus pas di mirota gue eksekusi bedak makeover twc yang sudah gue incer sejak lama. Ini gue masih tahan-tahan ga beli lipstik dulu. Mau diniatin ngabisin semua pemerah gonjreng itu.

Yang gue sangsikan itu adalah kemampuan gue untuk bertahan dengan segala niatan yang gue sudah canangkan. Gue ngeri iih kalau harus sepertin

diy hair mask

Rambut saya lurus lembut dan berwarna kecoklatan. Dulu kata ibu rambut seperti ini disebut rambut jagung. Dia lemas. Sulit disasak dan harus memakai hair spray supaya hasil sasakan “tampak” bentuknya. Sering kali mbak/mas MUA agak  ngeluh terkait menyasak rambut saya ini. Terakhir rambut saya disasak adalah ketika harus dandan untuk keperluan perpisahan SMP. Setelah itu ke mana-mana saya pakai kerudung sampai sekarang.

Rambut saya ini adalah gabungan dari karakter rambut ibu dan rambut ayah. Rambut ibu itu halus, lemas dan lebat. Rambut ayah itu kaku, legam, namun sedikit lebat. Gabungan keduanya ini yang menurun ke kami anak-anak mereka. Kakak saya karakter rambutnya: lebatnya rambut ibu dan kaku serta hitam legamnya rambut ayah. Saya kebalikannya. Rambut saya ini halus,lemas dan sedikit coklat merah seperti rambut ibu serta sedikit lebat alias jarang seperti rambut ayah. Dulu ketika masih kecil sih kami ga masalah. Sekarang saja pas sudah tua saya dan kakak sering merasa iri satu sama lain. Kakak saya pengen rambutnya lurus lembut, saya pengen rambut tebal dan hitam. Bagusnya sih sekarang ada cara smoothing and pelurusan di salon. Sehingga masalah kakak “agak” teratasi. Kalau saya sih lempeng aja. Ga bisa ngapa-ngapain. Karena mengeluarkan uang untuk perawatan numbuhin rambut, yang seringnya memakai teknologi laser, itu bagi saya masih belum bisa diterima. Alias dipertanyakan kefaedahannya dan uangnya juga dari mana 😀😀

Saya terima keadaan dan rambut saya sekarang apa adanya. Hanya sekarang keluhan utama rambut saya adalah rontoknya parah. Saya sering merasa bersalah setiap kali kapster di salon mengatakan “Rontoknya banyak ya”. Bersalahnya karena merasa tidak bisa menjaga rambut sendiri. Saya suka mengiyakan saran dan tawaran dari kapster untuk diberi tambahan serum/vitamin/tonik untuk rambut dengan nambah biaya 5000-25000 lagi, kalau ada uangnya, kalau tidak ada ya ditolak dengan halus 😀

Nah demi mengejar kesuburan rambut dan menghindarkan para kapster supaya tidak menemukan rambut rontok lagi tiap kali mengeramasi rambut saya, akhirnya saya niatkan untuk melakukan perawatan tambahan di rumah untuk rambut. Perawatan macam apa itu? Perawatan yang menggunakan bahan-bahan alami ke rambut saya. Karena kalau tetap memakai bahan dari pabrik kosnetik akan menjadi sama saja dengan yang di salon. Kalau begitu mending ke salon aja kan?

Dari hasil menyelam di halaman mbah google dengan mantra-mantra berbahasa inggris dan bahasa indonesia, saya menemukan berbagai resep hairmask alias masker rambut yang masuk akal dan terjangkau untuk dicoba. Dari sekian pilihan resep tentu saja dipilih yang bahannya mudah didapat dan murah. Prinsip aji mumpung dan frugal tentu saja wajib diterapkan. Sehingga, setelah berpikir sekian lama, akhirnya hari ini saya jadi juga mengeksekusi sebuah resep diy masker rambut dari situs stylecraze.com yang membahas lidah buaya atau aloe vera untuk rambut. Bahan yang dipakai adalah:

#Lidah buaya. Ada di depan dan belakang rumah.

#Bawang merah (onion). Dari dapur ibu.

Resep aslinya itu hanya lidah buaya dan bawang merah. Lidah buaya sebagai penyubur rambut. Bawang merah untuk membuka dan perangsang tumbuhnya rambut. Kedua bahan lantas diblender halus. Kemudian atas inisiatif pribadi saya tambahkan:

#minyak zaitun

#santan kelapa

#kemiri bakar

Tidak ada tujuan apa-apa sih. Cuma pikir saya mumpung mau mengerjakannya lagi pula semua bahan sudah ada dan juga memiluki khasiat kepada rambut. Jadi sekalian aja dimasukin hahahaha. Alhasil semua bahan dicampur di blender dan menjadi seperti ini.

Bukan, itu bukan bumbu putih buat opor ya 😀. Meski baunya seperti bumbu masakan gurih, dengan bawang merah yang dominan.

Setelah didapat adonan seperti itu kemudian diratakan ke rambut tidak perlu langkah-langkah khusus. Dipakainya persis seperti ketika di salon saja. Jadi pertama rambut dicuci bersih, kemudian diolesi bahan masker, tambah pijit dikit-dikit kalau mau, lalu ditutup dengan handuk hangat dan dibiarkan 10-25 menit. Setelah itu bilas sampai bersih. Kalau saya lantas keramas lagi karena bau bawang merahnya terasa sekali 😀.

P.s.

Adonan ini memiliki ampas. Jadi supaya tidak terlalu kotor dan repot saat membersihkannya, sebaiknya hasil blenderan lidah buaya dan bawang merah disaring dulu baru kemudian kalau mau ditambah dengan olive oil, santan, lemon dll.

Kalau untuk hasil saya tidak tahu. Baru pertama kali coba. Yang pasti keyakinan saya, kalau dipakai rutin pasti ada perubahan dan perkembangannya. Kalau cuma sekali sih percuma saja.