Iseng banget: Via Vallen vergisst das Gefühl der Liebe

Herrlicher Mondschein,
 Sterne.

Lange nicht gesehen,

könnte es noch Liebe bleiben?

Bis man vergisst,

wie das Gefuhl der Liebe ist.

Fragt man, ob jemanden jemand zu lieben ist

Kenal barisan kalimat di atas? Kalau belum, coba baca berikut ini.
Padang sinar rembulan, gemerlap bintang gemintang. Wis suwe ora nyawang. Opo kowe isih sayang.(Nganti) lali rasane tresno. Apa isih ana rasa… 

Masih nggak kenal juga? Hahaha. Tidak apa-apa kok. Silakan liat youtube aja kalau begitu 😀. Itu lirik lagunya Via Vallen yang berjudul lali rasane tresno aka. Lupa rasanya cinta. Saya terjemahkan sebagian keciiiil lirik itu ke dalam bahasa Jerman. Ambil yang paling mengena saja. Jujur, ini iseng sih. Namun suatu kegiatan yang menantang bagi saya. Perbandingan antar budaya dalam hal ini pengungkapan emosi dalam lagu jelas berbeda untuk kedua bangsa (bahasa) ini. Tentu saja pandangan ini sangat bias karena saya orang Indonesia 😀

Tentang penyanyinya

Via Vallen ini sedang booming. Saya tahunya sudah setahun ini. Awalnya nggak ngeh. Maklum, bukan eranya lagi. Namun ketika saya bergaul dengan murid-murid yang fresh from the SMU itu di kelas, perlahan saya diperkenalkan kepada lagu-lagunya. Lalu pada pentas-pentas kegiatan jelang 17 agustus banyak panitia yang request lagu ini diputarkan atau dinyanyikan. Lumayan cheese memang. Kriuk banget pas ndengerin lagunya Via. Liriknya kebanyakan menggunakan bahasa Jawa, bahasa ibu saya. Justru di sini kekuatannya saya bilang. Romantisme berbaur dengan curhat jones full receh khas Indonesia yang easy listening membuat lagu-lagu Via Vallen digemari orang banyak. Representasi kebaperan yang hakiki. Halah.

Berikut link ke video youtube-nya lali rasane tresno

https://youtu.be/FX4aUvf3Hcc

Dan ini lagu favorit saya. Syairnya top hahaha.

https://youtu.be/uY4SnyH8JoQ

Advertisements

Ngluyur ke pasar 

Lihat belanjaan saya hari ini: beras, pepaya, pisang, jagung manis, buncis,kol putih, wortel, labu siam. Semuanya 80 ribu saja dan masih diberi salak satu plastik gratis alias cuma-cuma. Bahagiaaaa 😀. Ini semua saya dapat di pasar. Di kios bu Kaji.

Kios bu Kaji adalah tempat favorit saya belanja beras. Karena beliau selalu memberi beras yang enak dan harganyanya terjangkau. Beli seberapapun dilayani, setengah kilo juga boleh. Kalau ternyata berasnya (nasinya) tidak enak, sisa beras yang belum dimasak boleh dibawa untuk ditukarkan. Kan tidak ada yang tahu enak tidaknya beras sebelum dimasak. Saya baru sekali sih tukar beras. Bukan tidak enak melainkan lebih karena teksturnya lembek, keluarga kami tidak suka. Bu Kaji selalu memberi bonus macam-macam. Kalau saya belinya sedikit, beliau juga tidak segan untuk menggratiskan. Tentunya digabung dengan belanjaan saya yang lain. Sering kali gratisan beliau itu, misalnya tomat, seledri, wortel dll cukup untuk dimasak menjadi hidangan sekali makan. Lumayan😀. 

Pasar vs supermarket

Selalu senyum setiap kali pulang dari pasar. Berasa diri sudah hebat aja. Bangga gitu. Bagaimana tidak hebat, belanjaan segitu rupa bawa duit 150ribu masih ada sisa hahaha.

Belanja di pasar itu memberi keasyikan tersendiri bagi saya. Nuansanya sangat otentik. Berbeda dengan supermarket yang segalanya terukur, pasti dan terprediksi, transaksinya pun hambar. Pilih-ambil-bayar. Di pasar saya bisa konsultasi sayur ini di masak apa enaknya, buah xx beli separuh bisa tidak, dll. Saya di pasar memang tidak menawar. Karena tidak bisa. Menawar itu berat, tidak enak. Namun tetap saya seneng ke pasar. Karena saya bisa minta barang seharga saya punya uang. Beli merica dua ribu boleh kan mbak? Dan si mbak menuk (nama penjual garingan di pasar) akan sigap membungkus merica dan lain-lainnya yang saya minta. Di kios lain, uang kembalian seribu saya mintakan tukar dengan seledri saja. Dikiranya akan dapat beberapa helai, yang bagi saya tidak apa, karena hanya sebagai penggenap. Ternyata saya diberi seikat besar seledri yang kalau di supermarket bisa dihargai 3ribuan atau lebih.

Tapi saya juga senang ke supermarket. Apalagi yang besar. Senang cuci mata melihat produk bertebaran tertata manis di rak. Senang memilih-memilah barang pabrik yang bermacam-macam disesuaikan dengan keperluan saya secara nyaman. Untuk barang-barang pabrikan macam sabun, Shampoo, minyak goreng, gula,kopi teh dll saya memang belinya di supermarket. 

Mirota Kampus, supermarket favorit saya, setiap jumat memberi diskon 20% untuk produk kosmetik. Ini juga daya tarik tersendiri kaaan. Belanja di supermarket bisa dilakukan secara cashless. Ini juga keuntungan bagi saya. Jeleknya adalah karena bisa membuat orang kalap belanja membabi buta tanpa sadar apa yang telah dia beli itu sebenarnya tidak berguna hahahaha. Salah saya sendiri ding. Maafkaan.

Emina smoochies lipbalm

Ini adalah hasil jajan tidak sengaja hari ini di Gardena. Iya karena niat sebenarnya saya ke sana adalah untuk beli air minum dan pembalut wanita. Tapi kepala siapa sih yang tidak menoleh kanan maupun kiri manakala melewati stand-stand kosmetik berjajar melambai minta dihampiri di bagian depan Gardena ini? Yang pasti bukan saya😀. Ketika saya datang, masih sangguplah untuk tetap pada rencana awal masuk ke swalayan, beli apa perlunya lalu pulang. Tapi kenyataan tidak demikian berjalan. Ketika pulang eh lakok sempat mlipir ke meja punya emina. Ini merek kosmetik imut. Imut usia maupun desainnya. Saya sering menganggap ini produk untuk anak smp/sma girly imut-imut lucu tak/belum banyak berdosa. Jadi pantaslah saya yang sudah gede bergelimang nista ini sering merasa tak pantas bahkan untuk mendekatinya saja.

Tapi tidak hari ini. Di hari jumat penuh berkah ini saya tertarik untuk mendekati meja promosi emina yang sepi😀. Tu kan benar di mata saya kok semua produk emina itu kecil semua ya. Beda banget dengan kakak wardah. Ada dua yang menarik hati: body mist emina dan lip balm schmoocies ini.  Karena saya memang tidak niat untuk beli sesuatu namun tidak enak hati dengan spg-nya maka saya ambil lip balm nya saja. But definitely I will grab the mist someday. Nunggu yang di rumah habis dulu. 

Lip balm emina ini dari jauh memang tampak imut tapi kalau dipegang terasa sekali kalau kemasannya kokoh. Lebih kuat dari lipbalm wardah. Kemasan lipbalm wardah sangat ringkih terutama bagian tutupnya. Punya saya tutupnya terjatuh dan plastik/kaca penutupnya retak untuk kemudian lama-lama pecah. 

Saya tidak punya ekspektasi macam-macam terhadap lipbalm emina ini. Jujur saja, sebenarnya saya tidak pernah mengharap hasil yang gimana-gimana dari sebuah lip balm. Semua kok sama saja hahaha.  Saya suka aromanya yang seger ketimun. Sengaja memang pilih ketimun daripada jeruk/ lemon. Di bagian kardus tertulis ada pelindung berupa tabir surya. 

Update. 

Sudah seminggu ini memakai emina lipbalm. Di bibir saya dia kurang melembabkan. Emina juga terlalu keset ketika dioleskan. Tidak cocok ketika ditimpa dengan lipcream. Saya pikir mungkin karena kurang lama menunggu lipbalmnya meresap tapi ternyata tidak. Sayang sekali

Gue menjahit

End of april saudara-saudara. Apa kabar iman kalian? Jadi ingat mentor ngaji dulu suka nanyain hal itu😀. Iman gue??? #nunduk

Anyway, hari ini gue menjahit lagi😍. Hasil jahitan gue seperti ini.

Jahitan gue yah cuma gitu-gitu melulu sih. Kalau tidak rok ya dress panjang tanpa lengan. Kenapa? Karena gue selalu ga sukses bikin lengan. Hahaha.

Nah gue niru model yang seperti ini. Cuma di bagian depannya gue bikin ga terlalu rendah jadi bisa dipakein jaket saja tanpa perlu pakai dalaman lagi.

Tentang Sri Mulyani 

Gue kagum pada menteri keuangan Bu Sri Mulyani. Gue memang ga dong ekonomi ya, jadi argumen pro-kontra apapun akan gue terima (kalau ada yang berargumentasi tentang beliau dan cara kerja beliau). Di sini gue ngelihatnya dari sosok, figur bu Sri Mulyani yang adalah seorang perempuan.

Let’s put it this way.

Gue perempuan, single (available #siapa tau ada yang nanya :P) jadi kan ga harus ngelayani suami, trus masih tinggal bersama orang tua. Gini aja gue suka puyeng ngurus keuangan keluarga dan keuangan pribadi gue. Gue sering senewen, baperan, dan lebay ga jelas. Teori sih ada. Aplikasi? Hahahaha ga berani jawab gue. # nunduk

Nah kalau bu Sri Mulyani? Dia ngurus negara lo. Duitnya orang banyak untuk orang banyak. Ibarat kata pemasukan dan pengeluaran harus seimbang (idealnya neraca kan gitu ya). Belum lagi kalau ada orang yang komentarnya riuh rendah. Kita eh gue ding, disapa dengan  sebutan “ibu” saja mikirnya sudah A sampai Z. Emang gue tampil sudah kayak ibu-ibu ya, gendut kah? Ada kerut di mana nih ? Dll. Bisa itu sampai bad mood seharian, kalau gue loooh. Kebayang doong kalau bu Mulyani baper dan ngambil keputusan keliru, urusannya sudah nyangkut ke negara. So I think, she’s been doing quite good job. And she is definitely the master of her work. I couldn’t agree more. 

Gue kagum pada beliau karena gue paham perempuan itu bagaimana (sok memahami dan berusaha paham karena kan gue juga perempuan). Perempuan itu stress prone, baperan emosional, semuanya itu besar kecil tetap bisa ngefek di kondisi fisik. Rambut rontok, mens ga teratur, penyakit psikis, kadang ga bisa tidur dan macam-macam lagi. Jadi ketika ada seorang yang bisa menemukan balance dalam aktivitas hidup dia, itu gue acungin jempol beneran.

Ya gitu deh perasaan gue. Gue kagum pada perempuan-perempuan hebat dan sehat, yang keren dan intens dalam kerjaan mereka. Buat gue perempuan harus bekerja dan menghargai perempuan yang lain. Semoga semua perempuan masuk surga #yang masuk kategori di atas. Jadi pelakor jelas ga masuk. Hahaha emang gue tukang bagi kunci ke surga apa😂. Kidding lah. You are what you are. No one can put the rule on you and hold you down or up 😉. Selama kita sayang pada sesama perempuan mungkin hal ini tidak akan terjadi. Jadi mungkin ini karena kita kurang kasih mengasihi dan sayang menyayangi  aja?

Masjid/mushola di Hartono mall

Saya memang bukan orang yang religius. Boleh dikata malah saya termasuk yang suka protes dan ngeyel garis keras kalau diberi tausiah atau nasehat atau apalah. Ya kalau isinya memang tidak tepat dan tidak bisa saya terima kenapa tidak. Apalagi kalau isinya saya rasa tidak membawa kepada kebaikan dan lebih membela yang berkepentingan. No way lah. Tergantung dari berbagai macam hal sih kalau yang ini. Tetapi saya juga orang yang mudah tersentuh. Hal-hal kecil bisa membuat mata ini berkaca-kaca dan (sepertinya) membuat bersyukur kepada Alloh.

Hartono mall

Ini mall jauh sekali dari rumah saya. Jarang saya bisa ke sini atau sengaja ke sini kalau tidak ada kepentingan. Alasan ini berlaku untuk semua kunjungan ke mall sebenarnya😀. Hari ini saya mampir ke Hartono mall. Sebenarnya tidak ada niat ngemall. Hanya tadi kakak saya kirim pesan supaya dibelikan thai tea. Iya. Kebetulan saya ada perlu sebentar ketemuan dengan teman di seputaran UPN Jogja. Jadi sekalian keluar rumahnya. Begitu kata kakak. Selesai ketemu dengan teman, saya pulang. Dan arahnya melewati mall Hartono ini. Saya mampir lah ke sana. Karena saya tahu ada pilihan thai tea banyak di sana dan sekalian ngadem sebentar. Jogja puanas sekali hari ini. Di parkiran mall yang luas itu saya celingukan mencari mushola. Iya. Dulu pernah sholat di mall hartono dan saya tahu musholannya ada di parkiran. Karena tidak ketemu (wawasan pandang ruang dan orientasi arah saya memang kacau) akhirnya saya putuskan nanti saja sholat di rumah, toh tidak akan lama beli teh ini juga.

Tetapi Alloh berkehendak lain. Setelah saya masuk ke dalam ternyata saya ingat bahwa mushola itu tidak jauh dari pintu masuk dekat area dropzone mobil, dekat bakso cakman. Akhirnya saya belok, ga jadi cari kedai thai tea tapi malah sholat.

Adalah sebuah kejutan yang menyenangkan melihat mushola ini. Karena apa? Tempat wudlu perempuan yang terakhir kali saya sholat di sini masih hanya berupa kran air menempel di dinding tanpa ada sekat penutup sama sekali sekarang sudah menjadi tempat berdinding cukup tinggi yang melindungi para muslimah yang mengambil air wudlu. Alhamdulillah. Dulu saya masih ingat harus membasahi bagian muka dulu sedemikian rupa sehingga setelahnya baru tangan dan kaki yang rasanya ribet karena memang tempat itu terbuka jadi membuka kerudungnya hanya bisa sedikit-sedikit saja. Sekrang hal itu tidak perlu lagi. Dan saya sangat bahagia. Meski di parkiran yang panas dan gerah, hal ini adalah sebuah kelebihan dan kemudahan yang luar biasa. Tempat wudlunya juga bersih dan pilihan kran banyak serta airnya lancar.

Selesai urusan sholat, saya tak lupa nulis dm ke ig hartono mall. Saya perlu mengapresiasi peningkatan fasilitas mereka yang satu ini dengan tak lupa meminta ditambahi kaca cermin dan tempat menggantung tas. Hahahaha. Penting ini tapi kan. Kalau kaca cermin luas dan banyak pasti tidak ada yang mematutkan jilbabnya di depan kaca almari tempat mukena itu. Karena itu bukan cermin sebenarnya. Semoga semakin indah ke depannya ya. Amiin

Tentang Steemit

Bingung ya baca judulnya 😀

Baru hari sabtu kemarin mendapat info tentang keberadaan steemit ini. Seorang senior dari Lhokseumawe yang memberi tahu tentang hal ini gara-garanya saya memberi sepotong kecil paragraf tulisan saya (yang memang cuma baru separagraf itu :)) ) kepadanya via Whatsapp. Beliau lantas menyarankan untuk diposting di Steemit. Gitu ceritanya.

Singkat cerita saya google-lah info terkait steemit ini. Menarik juga platformnya. Katanya beda dengan Facebook. Iya harus. Karena kalau sama dengan Facebook saya ogah gabung. Kenapa? Karena saya sedang mencari platform anonim tempat saya bisa bebas mencurahkan kreativitas saya dalam menulis bebas. Lha kan sudah ada wordpress blog ini. Iya juga sih. Memang di sini saya masih anonim tapi masih ada kurangnya. Kekurangannya adalah teman-teman tidak ada yang tahu blog ini punya saya hahahaha. Nah mau saya, ada satu lagi platform kreatif untuk saya yang anonim di dunia luar tapi diketahui teman-teman dekat saya. Penting ya itu? Iya, untuk orang seaneh saya.

Balik lagi ke pencarian di dunia maya perihal info Steemit, ternyata semuanya mengarah ke postingan para steemitan alias tulisan mereka di situs steemit. Saya sebenarnya mencari ulasan yang diluar situs tersebut. Sesuatu yang lebih “netral”. Beberapa sudah saya dapatkan antara lain dari kaskus, dari blog komunitas penulis Aceh, dan instagram 😀 . Lumayanlah. So, dare to join steemit? definitely yes. Why not anyway. Siapa tahu bisa jadi penyair berdarah biru? #eh. hahaha. Beneran, yang saya cari adalah jalur ekspresi tanpa batas tanpa label. Sesuatu yang pure anonim untuk saya. Memang di Steemit ada benefit berupa uang bayaran,Tapi apa iya saya bisa mendulang dari sana. Kalau iya, ya iya bahagia banget 😀 tapi kalau tidak, ya tidak apa-apa. Pengennya sih ada anonim juga yang mengapresiasi puisi saya (yang kadang ditulis dalam bahasa Jerman ini) amiiin.