tumis ayam ala Thailand “pad ga prao” wanna be

 

Pad ga prao. 

Pertama kali makan ayam tumis ala thai di resto Phuket yang di jalan tamsis. Sengaja pesan ini karena ketika makan di songkhla resto daerah ringroad utara itu ga sempat pesan. Keduluan kenyang dengan tom yum sama pad thai serta roti naan di sana. #laper apa laper 😕. Pad ga prao di phuket ini bagi saya rasanya terlalu asin. Mungkin karena penambahan kecap asin yang tidak disertai dengan pengurangan garam. Entahlah.

Nah karena masih penasaran dengan thai food dan karena mas profesor seorang thai man #halah. Maka acara proses mengenal makanan thai ini masih berlanjut. Di samping karena aslinya saya juga orang yang suka coba-coba sih. Seperti waktu dulu pernah coba bikin papaya salad sendiri. Enak kalau buatan sendiri trus dimakan sendiri. 😀.

Memasak sendiri

Kebetulan kali ini ada ayam segar yang dibeli ibu tadi pagi pas jalan-jalan. Jadi kepikiran untuk memcoba bikin sendiri pad gaprao. Bahan utamanya sudah ada semua. Yaitu daging ayam (semua daging bisa dipakai kalau hasil googling bilang. Ayam/sapi/babi…) serta daun basil. Nah ini. Terkait dengan basil. Yang diminta itu adalah sweet basil, yang di Indonesia jarang dijual dan ditanam orang. Bagi penganut garis keras, tanpa sweet basil itu namanya bukan pad ga Prao. Yowis gpp. Saya ngikut aja. Disebut tumis ayam aja ya. 

Kemangi untuk daun sweet basil

Berhubung keberadaannya sulit diketahui di Indonesia, maka saya memakai daun kemangi. Kemangi ini juga termasuk keluarga basil. Dia jenis lemon basil. Aromanya khas dekat dengan aroma lemon kan? Kalau ada waktu bolehlah cari tahu keluarga basil ini siapa saja. Yang pasti thai basil sering hadir dalam masakan thai (beda lagi ini dari sweet dan lemon). Lantas dari eropa ada juga italian basil yang muncul di menu Italia atau Eropa lainnya.

Tumis ayam kemangi 

Bahan: 

# Daging ayam. (Saya cincang seperlunya)

# Daun kemangi secukupnya. Kalau saya, makin banyak makin enak. Beneran.

# bawang merah iris tipis

# bawang bombay dan bawang putih dicincang

bumbu cair idealnya ada kecap hitam, kecap ikan, kecap asin, kecap manis, saus tiram dicampur jadi satu. Cuma saya adanya hanya kecap manis saja. Maklum orang jogja *alesan. Jadi saya persiapkan kecap manis di mangkuk ditambah garam dan kaldu jamur non msg. Sudah itu saja.

# cabai (rawit) sesuai selera dirajang halus.

 

Cara membuat:

1. Tumis bawang bombay, bawang putih yang dicincang. Masukan bawang merahnya juga. Tumis sampai harum ke mana-mana.

2. Masukan daging ayam. Aduk-aduk sebentar.

3. Masukan cairan bumbu kecap dkk. Masak hingga berubah warna. Icipi rasa

4. Masukan irisan cabai. Cicipin lagi pedes apa nggaknya.

5. Trakhir masukan daun kemangi. Aduk sebentar. Trus angkat. Usahakan kemangi masih cantik. 

6. Pindahkan ke piring segera. 

Kalau makan pad ga prao ini biasanya dengan nasi putih dan telur ceplok yang pinggirannya kriuk kecoklatan itu. Tapi tanpa itu juga tidak apa-apa. 

Selamat makaaan 😊😊😊🌹🌹🌹😊😊😊


Advertisements

dangerous man

What is a dangerous man? 

What shapes a dangerous man?

 If a man is dangerous, then why would one get attracted to him?

 If a man is dangerous, what should one do to avoid that?

If he is so dangerous to me, then how could I be so in love with him ?

Ngeri  #cerita perempuan

Setelah gue telateni nyatet semua debet kredit keuangan gue, yang terjadi sekarang adalah gue nanar. Gimana enggak? Baru tanggal 20 duit neraca gue sudah minus 500rb aja. Ya sih. Ada pengeluaran yang ekstra lebih besar. Gue harus nyicil bayar kacamata 500rb dan bikin paspor 355rb, trus beli barang titipan sahabat gue di jerman sana hampir sejuta. Hohoho. Ini ni bocornya saudara-saudara. Oke deh,  sepertinya minus ini bisa dimaafkan #bisa aja alasan 😀😀.

Sebenarnya bukan ini aja yang bikin gue ngeri. Kebiasaan suka gesek gue yang akhir-akhir ini kelewatan. Masih untung cuma gesek debit, yang artinya emang duitnya ada kalau yang digesek cc bisa cemut-cemut pala detektif conan kan #gue ga suka barbie

Sifat indulgence gue parah. Masih untung *nah kan. Gini ini yang ga gue suka. Karena suka bilang masih untung jadi berasa ga atau kurang bersalah. Huft* gue masih kekep dompet kenceng ga belanja online pas tanggal 11.11.  kemarin yang juga hari ol-shop nasional ya katanya. Tapi itu ga berarti gue trus suci tak bernoda gitu. Gue sudah proven guilty duluan di awal bulan, beli baju dan skincare yang a bit pricey. Trus pas di mirota gue eksekusi bedak makeover twc yang sudah gue incer sejak lama. Ini gue masih tahan-tahan ga beli lipstik dulu. Mau diniatin ngabisin semua pemerah gonjreng itu.

Yang gue sangsikan itu adalah kemampuan gue untuk bertahan dengan segala niatan yang gue sudah canangkan. Gue ngeri iih kalau harus sepertin

diy hair mask

Rambut saya lurus lembut dan berwarna kecoklatan. Dulu kata ibu rambut seperti ini disebut rambut jagung. Dia lemas. Sulit disasak dan harus memakai hair spray supaya hasil sasakan “tampak” bentuknya. Sering kali mbak/mas MUA agak  ngeluh terkait menyasak rambut saya ini. Terakhir rambut saya disasak adalah ketika harus dandan untuk keperluan perpisahan SMP. Setelah itu ke mana-mana saya pakai kerudung sampai sekarang.

Rambut saya ini adalah gabungan dari karakter rambut ibu dan rambut ayah. Rambut ibu itu halus, lemas dan lebat. Rambut ayah itu kaku, legam, namun sedikit lebat. Gabungan keduanya ini yang menurun ke kami anak-anak mereka. Kakak saya karakter rambutnya: lebatnya rambut ibu dan kaku serta hitam legamnya rambut ayah. Saya kebalikannya. Rambut saya ini halus,lemas dan sedikit coklat merah seperti rambut ibu serta sedikit lebat alias jarang seperti rambut ayah. Dulu ketika masih kecil sih kami ga masalah. Sekarang saja pas sudah tua saya dan kakak sering merasa iri satu sama lain. Kakak saya pengen rambutnya lurus lembut, saya pengen rambut tebal dan hitam. Bagusnya sih sekarang ada cara smoothing and pelurusan di salon. Sehingga masalah kakak “agak” teratasi. Kalau saya sih lempeng aja. Ga bisa ngapa-ngapain. Karena mengeluarkan uang untuk perawatan numbuhin rambut, yang seringnya memakai teknologi laser, itu bagi saya masih belum bisa diterima. Alias dipertanyakan kefaedahannya dan uangnya juga dari mana 😀😀

Saya terima keadaan dan rambut saya sekarang apa adanya. Hanya sekarang keluhan utama rambut saya adalah rontoknya parah. Saya sering merasa bersalah setiap kali kapster di salon mengatakan “Rontoknya banyak ya”. Bersalahnya karena merasa tidak bisa menjaga rambut sendiri. Saya suka mengiyakan saran dan tawaran dari kapster untuk diberi tambahan serum/vitamin/tonik untuk rambut dengan nambah biaya 5000-25000 lagi, kalau ada uangnya, kalau tidak ada ya ditolak dengan halus 😀

Nah demi mengejar kesuburan rambut dan menghindarkan para kapster supaya tidak menemukan rambut rontok lagi tiap kali mengeramasi rambut saya, akhirnya saya niatkan untuk melakukan perawatan tambahan di rumah untuk rambut. Perawatan macam apa itu? Perawatan yang menggunakan bahan-bahan alami ke rambut saya. Karena kalau tetap memakai bahan dari pabrik kosnetik akan menjadi sama saja dengan yang di salon. Kalau begitu mending ke salon aja kan?

Dari hasil menyelam di halaman mbah google dengan mantra-mantra berbahasa inggris dan bahasa indonesia, saya menemukan berbagai resep hairmask alias masker rambut yang masuk akal dan terjangkau untuk dicoba. Dari sekian pilihan resep tentu saja dipilih yang bahannya mudah didapat dan murah. Prinsip aji mumpung dan frugal tentu saja wajib diterapkan. Sehingga, setelah berpikir sekian lama, akhirnya hari ini saya jadi juga mengeksekusi sebuah resep diy masker rambut dari situs stylecraze.com yang membahas lidah buaya atau aloe vera untuk rambut. Bahan yang dipakai adalah:

#Lidah buaya. Ada di depan dan belakang rumah.

#Bawang merah (onion). Dari dapur ibu.

Resep aslinya itu hanya lidah buaya dan bawang merah. Lidah buaya sebagai penyubur rambut. Bawang merah untuk membuka dan perangsang tumbuhnya rambut. Kedua bahan lantas diblender halus. Kemudian atas inisiatif pribadi saya tambahkan:

#minyak zaitun

#santan kelapa

#kemiri bakar

Tidak ada tujuan apa-apa sih. Cuma pikir saya mumpung mau mengerjakannya lagi pula semua bahan sudah ada dan juga memiluki khasiat kepada rambut. Jadi sekalian aja dimasukin hahahaha. Alhasil semua bahan dicampur di blender dan menjadi seperti ini.

Bukan, itu bukan bumbu putih buat opor ya 😀. Meski baunya seperti bumbu masakan gurih, dengan bawang merah yang dominan.

Setelah didapat adonan seperti itu kemudian diratakan ke rambut tidak perlu langkah-langkah khusus. Dipakainya persis seperti ketika di salon saja. Jadi pertama rambut dicuci bersih, kemudian diolesi bahan masker, tambah pijit dikit-dikit kalau mau, lalu ditutup dengan handuk hangat dan dibiarkan 10-25 menit. Setelah itu bilas sampai bersih. Kalau saya lantas keramas lagi karena bau bawang merahnya terasa sekali 😀.

P.s.

Adonan ini memiliki ampas. Jadi supaya tidak terlalu kotor dan repot saat membersihkannya, sebaiknya hasil blenderan lidah buaya dan bawang merah disaring dulu baru kemudian kalau mau ditambah dengan olive oil, santan, lemon dll.

Kalau untuk hasil saya tidak tahu. Baru pertama kali coba. Yang pasti keyakinan saya, kalau dipakai rutin pasti ada perubahan dan perkembangannya. Kalau cuma sekali sih percuma saja.

Me against my self: Procrastionation a.ka. Aufschiebeverhalten

Wenn man etwas bzw. eine Arbeit immer wieder zu verschieben anstatt sie zu erledigen.

Yang dalam bahasa Indonesia dikenal dengan sebutan  (suka) menunda pekerjaan. Hal ini tidak hanya terjadi dalam dunia pekerjaan bergaji loh ya tetapi dalam semua hal dan bisa menjangkiti semua orang: ibu rumah tangga, mahasiswa, pelajar, pejabat, umat, jamaah dll.

Saya termasuk yang paling akut kena virus ini. Intinya sih malas. Rasa malas mengantar kepada kebiasaan menunda-nunda, berprinsip kalau nanti bisa kenapa harus sekarang. Tahu loh padahal, kalau itu tidak benar, tapi masih juga dilakukan, kadang sadar kadang juga pura-pura tidak sadar. Jadi ingat om Freud yang kasih warning kalau kita itu melupakan karena sebenarnya tidak menginginkan (wir vergessen, weil wir es wollen). Tapi apa iya kalau kita tuh sebenarnya tidak menginginkannya? Entahlah. Yang saya tahu pasti adalah kalau kita terus menunda suatu pekerjaan, pikiran kita tidak akan tenang. Saya seperti itu. Akan ada masanya ketika kita sudah tidak punya pilihan lain selain eksekusi. Hal ini akan sangat terasa terutama saat kita tidak terikat kepada orang lain, tidak ada atasan atau bos yang meminta kerjaan kita, tidak ada dosen atau bapak ibu guru yang kalau tugas tidak terkumpul kita tidak dapat nilai, dan contoh lain-lainnya. Tidak ada apapun atau siapapun di sini. Yang ada adalah tekanan dari dalam diri sendiri untuk beraksi. Ibarat kata ini adalah saat kita berhadapan dengan diri kita. Me against my self.

Tadi baru saja saya menyelesaikan pendaftaran online di salah satu  situs management reksadana. Saya sudah lama mengupdate diri saya tentang reksadana, mempelajarinya, mengikuti perkembangannya. Ada masanya juga ketika saya membuka berlembar-lembar halaman forum online yang membahas reksadana. Perencanaan strategis pembelian reksadanapun sudah manis dan tersusun rapi.  Tapi nyatanya baru hari ini saya eksekusi. Tanya kenapa ????

Saya begitu ingin melanjutkan promosi s3. Tahun berlalu keinginan itu tetap sebatas keinginan belaka. Paling mentok saya cuma mengumpulkan informasi pembukaan graduate studi atau penawaran beasiswa studi s3 sedang hal-hal yang lain terkait persiapan menuju ke sana sama sekali tak tersentuh. Padahal ide riset sudah ada dan bahkan berkarat sudah di dasar otak sana. Hingga kemudia waktu berlalu dan sekarang seperti dikejar untuk ambil keputusan, dihadapkan pada pilihan: NOW or NEVER !! . Dasar manusia ya, sukanya kok dipepet, disudutkan, didesak, diancam, dipersempit pilihannya. Kalau sudah begini barulah ambil tindakan.

Berderet keinginan dan tujuan semoga tidak hanya berakhir dalam lembaran daftar saja, tetapi bisa menjadi kenyataan. Intinya adalah melakukan. Iya, saya tahu itu. Semua orang juga tahu. Sudah khatam bahkan pengetahuannya tentang hal itu. Mungkin sekarang doanya harus diubah hehehe.  Mungkin formulasinya jadi begini: semoga selalu dihadapkan pada desakan, pada pilihan, dan dipepet untuk bertindak dan tidak menunda-nundanya lagi hingga titik darah penghabisan. halah.

Satu lagi. Pepatah Jawa ada yang berbunyi “Wit gedhang awoh pakel” artinya pohon pisang berbuah pakel (semacam buah kweni). Maksud pepatah itu adalah “ngomong gampang, nglakoni angel” artinya, mudah ngomongnya tapi menjalaninya sulit.  Ya gitu deh. Lagi-lagi in god we trust. Semoga Alloh memberi kemudahan dan kesempatan (lagi) dan kita (diri saya) bisa senantiasa mengingat untuk tidak lagi membuang waktu dan kesempatan (lagi). Karena Tuhan bisa saja mencukupkan semuanya hanya sampai di sini.  #krik-krik

How good are you?

Gue suka buka-buka profil orang-orang di situs internet macam link**#. Kepo gitu melihat track record kaum profesional di sekitar kita. Gue sendiri tidak punya akun di situ. Orang freak macam gue suka ketakutan sendiri kalau orang kepoin gue, yang anehnya gue suka ngepoin orang. #kepo yang positif kok ini #pembelaan.  #hidup stalking horee

Ok. Kembali ke profilnya orang-orang. Suka terkagum-kagum ga sih melihat perjalanan hidup mereka. Kerja di xyz, proyek riset segambreng, keren-keren deh semua. Cuma, na ini ada cumanya gue suka ngernyit sendiri lantaran orang per orang yang profilnya ada di situ ga se-wah yang dia tuliskan. Ga semuanya. Tapi ada😀. Gampangnya sih ada yang diblured 😚😚.

Prasangka baik aja ya,  mungkin ybs lupa meng-update profil. Contoh: kerja di xyz menangani proyek ABCD cuma dicantumin tahun mulainya doang (biasanya sih pake pilihan “sampai sekarang” ) yang tentu saja otomatis oleh sistem akan dihitung masa aktifnya benar-benar sampai sekarang sehingga akumulasinya spektakuler 6 tahun sekian bulan padahal aslinya cuma 4-6 bulan alias satu semester ajaran (bukan tahun ajaran) aja. Karena gue tahu yang punya profil sudah ga di tempat itu lagi (yang memang kalau dibaca akan lebih keren image-nya, luar negeri gitu looh). Meskipun kenyataannya sudah enggak di sana lagi.  So balik lagi, mungkin belum diupdate dan belum berkepentingan untuk update. Gue tau orang ngabdet profil salah satu alasannya kalau lagi butuh jaringan 🙌. #habisnya si mas profesor gitu 😖

Contoh lain, kadang profil keahlian alias expertise seseorang gambarannya waah banget. Masalahnya gue tau riset ybs remuk, kuliah ga lulus-lulus, nilai juga so so lah. Beruntung sekali range nilai untuk kategori good itu cukup lebar jadi masih muat untuk menyandang predikat good, meski good nya semampir, mlipir hampir jatuh ke predikat cukup 😀

Jadi gimana? Mendingan ga kenal gue aja ya, jadi ga gue kepoin. Pun meski gue kepoin, yang ada tetep gue kagum dong, karena gue ga kenal lu hahahaha. Yang kasian itu kalau gue kenal dan tau “dalaman” lu, karena gue pasti bakal nambah keriput lantaran mengernyit sambil berkata “kok bisa yaaa? ”  because I know you are not as good as you described. Now I feel sick then😫😫

Tapi tetap aja ya, itu bukan salah mereka.